Pages

Banner 468 x 60px

 

Rabu, 29 Januari 2014

siput laut biru (Glaucus Atlanticus) mirip seperti naga

0 komentar
jika anda melihan sejenak Foto ini pasti anda akan berfilir hewan apa ini. hewan yang mirip seperti naga ini tenyata sebuah siput laut yang ukuranya skecil. Glaucus Atlanticus (dikenal juga sebagai sea swallow, malaikat biru, glaucus biru, naga biru, siput laut biru) adalah spesies siput laut berukuran kecil (dewasanya hanya mencapai panjang 3 cm) degan warna biru laut. Ditemukan di Pantai Timur dan Selatan Afrika Selatan, perairan Eropa, pantai timur Australia dan Mozambik.Termasuk beracun dan menimbulkan sakit jika tersentuh.

Phylum: Mollusca
Class: Gastropoda
Order: Nudibranchia
Suborder: Aeolidinia
Family: Glaucidae
  Glaucus Atlanticus merupakan Salah satu hewan paling unik yg belum diketahui banyak orang adalah siput samudra biru (Glaucus atlanticus). Ada sejumlah hal yg menyebabkan kenapa hewan yg masih termasuk sebagai anggota ordo Nudibrachia (siput laut tak bercangkang) ini bisa dikatakan unik. Hal pertama jelas bisa dilihat dari bentuknya yg tidak biasa. Hewan yg rata-rata berukuran antara 5-8 cm ini memiliki bentuk yg jika dilihat bisa dibilang mirip... kadal berkaki enam, mungkin. Bentuknya yg unik juga yg membuat hewan ini sempat dikira sebagai serangga laut & bahkan fase larva dari suatu spesies hiu.

 







Siput samudra biru banyak ditemukan di perairan hangat di seluruh dunia, terutama di perairan sekitar Eropa & Afrika bagian selatan. Di bagian perutnya terdapat semacam gelembung udara yg membantunya mengapung & melayang-layang di lautan. Itu pula yg menyebabkan hewan ini diberi nama genus "Glaucus", nama dewa laut dari mitologi Yunani yg dalam kisahnya dipaksa hidup terombang-ambing selamanya di laut. Hal yg masih diperdebatkan adalah apakah siput samudra biru hanya melayang di air mengikuti arus laut, ataukah dia bisa bergerak sendiri.


Layaknya Nudibranchia lain, siput samudra biru juga memiliki pewarnaan mencolok tersendiri. Bagian perutnya berwarna biru terang, sementara bagian punggungnya berwarna perak keabuan gelap. Pewarnaan tersebut bukan tanpa alasan. Warna perutnya menyerupai warna terang cahaya matahari dari atas permukaan laut jika dilihat dari bawah, sementara jika dilihat dari atas warnanya seperti warna biru samudra. Hal tersebut membuatnya sulit dilihat dari jauh & membantu melindunginya dari predator yg mengandalkan penglihatan untuk mencari mangsanya semisal burung laut. Teknik pewarnaan untuk kepentingan perlindungan tersebut dikenal sebagai "counter shading".


Hal paling menarik sekaligus mencengangkan adalah jika kita menelusuri perilaku makan dari siput samudra biru. Siput samudra biru adalah hewan karnivora yg hidup dengan memakan hewan-hewan hydrozoa (ubur-ubur & kerabatnya) yg beracun. Salah satu hewan yg menjadi mangsa dari siput samudra biru adalah ubur-ubur raksasa kapal Perang Portugis (Portuguese man-o-war) yg panjang tentakelnya bisa mencapai 13 m! Untuk makan, siput samudra biru memakai semacam gigi kecil yg membantunya berpegangan & kemudian merobek bagian tubuh mangsanya. Siput samudra biru juga diketahui memiliki sikap kanibalisme alias saling makan antar sesama spesiesnya.


Keunikan siput samudra biru belum sampai disitu. Siput samudra biru tidak hanya kebal terhadap racun dari hewan-hewan mangsanya. Ia juga diketahui bisa menyerap racun dari hewan yg dimakannya tersebut & kemudian menyimpannya dalam anggota tubuh cerata yg bentuknya mirip jari-jari. Racun yg disimpannya tersebut lalu digunakan sebagai alat pertahanan bagi dirinya sendiri sehingga bisa dikatakan, siput samudra biru menjadi beracun dengan menyerap racun dari hewan lain. Karena bisa menimbun racun yg diserap dari mangsanya, siput samudra biru bisa memiliki kadar racun lebih tinggi dari mangsa-mangsanya sekalipun - yg sebenarnya sudah cukup beracun bagi manusia!


Siput samudra biru adalah hewan hermafrodit alias berkelamin ganda. Saat melakukan perkimpoian, siput samudra biru akan saling menempelkan perutnya & kemudian melakukan kopulasi. Sesudah melakukan perkimpoian, kedua pasangan kimpoi tersebut akan menghasilkan telurnya sendiri-sendiri. Telur-telur yg dikeluarkan oleh siput samudra biru dibungkus semacam lapisan berlendir yg membantu melindungi & saling merekatkan telur-telur tersebut. Telur-telur tersebut biasanya dilepaskan begitu saja sehingga melayang bebas di air, namun siput samudra biru juga diketahui bisa menaruh telur-telurnya dalam potongan tubuh dari mangsa yg dirobeknya.
Habitat
Siput laut Biru telah ditemukan di laut terbuka di perairan beriklim sedang dan tropis di seluruh dunia (Rudman 1998 November 6.). Ada kontroversi mengenai apakah makhluk ini adalah invertebrata planktonik atau pelagis, karena bertentangan pengamatan pada gerakan sukarela (Savilov 1956, Thompson dan McFarlane 1967). Glaucus Atlanticus tinggal dalam hubungan erat dengan marginata Glaucilla relatif dekat (Thompson dan Bennett 1970) serta invertebrata laut terbuka lainnya seperti the Portuguese-man-o-war (Physalia physalis), the by-the-wind-sailor (Velella velella) and the blue button (Porpita porpita) (Sterrer 1992).
Hasil Penelitian terbaru
Ada sedikit penelitian tentang siput laut biru pada umumnya, dan lebih sedikit penelitian baru-baru ini. Pesan yang terakhir datang dari komentar Irina Roginskaya di Laut Slug Forum. Dari analisis foto SEM dari mulut dan rahang Glaucus ia melihat beberapa dentikel yang aus dan patah. Dia Menyimpulkan Bahwa Mungkin Glaucus "berupaya" untuk Menempel pada mangsanya, dan fungsi dentikel sangat penting bagi Glaucus untung memakan mangsanya.

0 komentar:

Posting Komentar