Pages

Banner 468 x 60px

 

Sabtu, 11 Mei 2013

Gejala Vulkanisme gunung berapi

0 komentar

Peristiwa yang berhubungan dengan naiknya magma dari dalam perut bumi disebut dengan vulkanisme. Campuran bebatuan dalam keadaan cair, liat, serta sangat panas disebut dengan magma. Tingginya suhu magma dan banyaknya gas di dalam magma menimbulkan aktivitas magma. Magma itu dapat berupa gas, padat, dan cair. Gunung api merupakan tempat di permukaan bumi yang pernah atau masih mengeluarkan magma. Ditinjau dari bentuk dan proses terjadinya, gunung berapi dapat dibedakan menjadi tiga, sebagai berikut.

a) Gunung api kerucut (strato)
Jenis gunung api yang banyak terdapat di Indonesia ini berbentuk
menyerupai kerucut, terbentuk dari adanya letusan dan lelehan (efusi),
yang terjadi secara bergantian. Gunung ini disebut lava gunung api
strato karena bahannya berlapis-lapis.

b) Gunung api corong (maar)
Bentuk gunung api ini menyerupai danau kecil (danau lava gas kawah).
Keadaan ini terbentuk karena letusan lava padat (eksplosi). Bahannya
terdiri dari efflata. Kondisi ini seperti yang terjadi di lereng Gunung
Lamongan Jawa Timur, Danau Eifel di Prancis, dan di dataran tinggi
Prancis Tengah.

c) Gunung api perisai (tameng)
Gunung api perisai ini berbentuk menyerupai perisai, terjadi pada permukaan
lereng yang landai dengan kemiringan lereng antara 1°–10°.
Gunung api ini terbentuk karena lelehan maupun cairan yang keluar
dan membentuk lereng yang sangat landai. Bahan lavanya bersifat cair
sekali. Misalnya: Gunung Mauna Loa dan Gunung Mauna Kea di Hawaii.

Ditinjau dari aktivitasnya, gunung api dapat dibedakan menjadi tiga golongan berikut.

a) Gunung aktif, merupakan gunung api yang masih beraktivitas,
mengeluarkan asap pada kawahnya, menimbulkan gempa dan letusan,
seperti Gunung Merapi dan Gunung Stromboli.

b. Gunung istirahat, merupakan gunung api yang sedang istirahat tetapi
sewaktu-waktu dapat meletus dan kemudian istirahat kembali, seperti
Gunung Ciremai.
c. Gunung mati, merupakan gunung api yang sejak tahun 1600 sudah
tidak meletus lagi, misalnya, Gunung Patuha dan Gunung Sumbing.
Berbagai Macam Bahan yang Dikeluarkan oleh Tenaga Vulkanisme
a. Benda Cair
Benda cair terdiri atas berikut.
(1) Lava, adalah magma yang telah keluar.
(2) Lahar panas, merupakan campuran magma dan air, berupa lumpur
panas mengalir.
(3) Lahar dingin, terdiri dari batu, pasir, dan debu di puncak gunung. Jika
hujan lebat, air hujan itu akan bercampur dengan debu dan pasir yang
merupakan bubur kental. Lahar dingin ini akan mengalir ke bawah
melalui lereng dan jurang-jurang dengan derasnya sehingga dapat
menyapu bersih semua yang dilaluinya. Derasnya lahar dingin yang
tidak terbendung akan mengakibatkan tertutupnya sawah-sawah,
terbendungnya sungai-sungai dan saluran-saluran air. Kondisi ini akan
dapat menimbulkan banjir lahar dingin yang didominasi pasir.
b. Efflata (bahan padat)
Berdasarkan asalnya, efflata dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
efflata antogen/pyrodastic atau effata yang berasal dari magma sendiri dan
efflata allogen atau efflata yang berasal dari bebatuan yang berada di sekitar
pipa kawah yang ikut terlempar. Menurut ukurannya, efflata dapat
dibedakan atas bom (batu besar-besar), lapili (batu sebesar kacang/kerikil),
pasir, debu, dan batu apung (batu yang penuh pori udara).
c. Bahan gas (ekshalasi)
Bahan gas terdiri atas:
(1) solftar, yaitu gas (H2S) yang keluar dari lubang;
(2) fumarol, yaitu tempat yang mengeluarkan uap air;
(3) mofet, yaitu tempat yang mengeluarkan CO2 seperti Pegunungan Dieng
dan Gunung Tangkuban Perahu.
Selain beberapa bahaya yang disebabkan oleh letusan gunung api, ada
juga keuntungan atau manfaat yang dapat dirasakan oleh makhluk hidup,
antara lain:
(1) adanya pelapukan abu yang mengandung garam-garam dan mineral
yang dibutuhkan oleh tubuh dapat meningkatkan kesuburan tanah
sehingga tanah di sekitar gunung berapi menjadi tanah yang subur;
(2) menjadi daerah tangkapan hujan atau mendatangkan hujan;
(3) semburan vulkanik dapat memperluas daerah pertanian;

d. meningkatnya jenis tanaman budi daya (tanaman perkebunan) karena
adanya bermacam-macam zona tumbuh-tumbuhan;
e. menjadikan letak mineral (tambang) dekat dengan permukaan tanah;
f. udara yang masih segar dan sangat sejuk dapat dijadikan tempat
pariwisata dan sanatorium.
Peristiwa Post Vulkanis
Peristiwa yang terdapat pada gunung berapi yang sudah mati atau
yang telah meletus sering disebut dengan peristiwa post vulkanis. Peristiwa
ini, antara lain, sebagai berikut.
a) Makdani
Makdani merupakan sumber mata air mineral yang biasanya panas
dan dapat dimanfaatkan untuk pengobatan khususnya penyakit kulit.
b) Geyser
Geyser merupakan mata air yang memancarkan air panas secara
periodik setiap jam, satu hari, atau satu minggu. Tinggi pancarannya
dapat mencapai 10 sampai 100 meter. Contoh: di Selandia Baru, Pulau
Islandia, dan Yellowstone National Park (Amerika).
c) Fumarol
Fumarol adalah sumber gas yang dapat merupakan:
(1) mofet, adalah sumber gas asam arang (CO2), contohnya: Gunung
Tangkuban Perahu;
(2) sumber uap air, contohnya: fumarol gunung-gunung yang terdapat di
Italia dan Islandia;
(3) solfatar, adalah sumber gas belerang (H2S), contohnya: Gunung
Papandayan, Kawah Manuk, dan Gunung Welirang.
3) Gempa Bumi
Getaran permukaan bumi yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan
dari dalam disebut dengan gempa bumi. Dilihat dari intensitasnya, terdapat
dua macam gempa, yaitu:
(1) makroseisme, merupakan gempa yang intensitasnya besar dan dapat
dirasakan tanpa menggunakan alat;
(2) mikroseisme, merupakan gempa yang intensitasnya kecil sekali dan
hanya dapat diketahui dengan menggunakan alat perekam.
Berbagai hal mengenai gempa bumi ini perlu kita teliti lebih lanjut
supaya kita dapat mengurangi akibat yang ditimbulkannya. Tindakan itu
dapat dilakukan dengan adanya peramalan tentang terjadinya dan upaya
penanggulangannya. Ilmu yang mempelajari gempa bumi, gelombanggelombang
seismik, serta perambatannya disebut seismologi, sedangkan alat
untuk mencatat gempa adalah seismograf. Ada dua macam seismograf, yaitu:

(1) seismograf vertikal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada
arah vertikal;
(2) seismograf horizontal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada
arah horizontal.
Besaran (magnitudo) gempa yang didasarkan pada amplitudo
gelombang tektonik dicatat oleh sismograf dengan menggunakan skala
Richter. Massa yang bebas dari getaran gempa yang disebut massa stasioner.

4) Diatropisme/Tektonisme/Tektogenesa
Perubahan letak lapisan bumi secara mendatar atau vertikal disebut
tektonisme. Bentuk hasil tenaga tektonisme umumnya berupa lipatan dan
patahan. Semua gerak naik dan turun yang menyebabkan perubahan bentuk
kulit bumi disebut dengan gerak tektonik. Gerak ini terbagi menjadi gerak
epirogenetik dan gerak orogenetik

a) Gerak epirogenetik merupakan gerak atau pergeseran lapisan kulit bumi
yang sangat lambat, berlangsung dalam waktu yang lama, dan meliputi
daerah yang luas. Ada dua macam gerak epirogenetik.
(1) Epirogenetik positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga terlihat
seakan permukaan air laut naik. Keadaan ini akan jelas terlihat jika
kita berada di tepi pantai.
Contoh:
1. Turunnya pulau-pulau di Indonesia bagian timur (Kepulauan
Maluku dan pulau-pulau barat daya sampai ke Pulau Banda).
2. Turunnya muara Sungai Hudson di Amerika yang dapat dilihat
sampai kedalaman ± 1.700 meter.
3. Turunnya lembah Sungai Kongo sampai dengan 2.000 meter di
bawah permukaan laut.
(2) Epirogenetik negatif, merupakan gerak naiknya daratan sehingga terlihat
seakan permukaan air laut turun.
Contoh:
1. Naiknya Pulau Timor dan Pulau Buton.
2. Naiknya dataran tinggi Colorado di Amerika.
b) Gerak orogenetik, merupakan gerakan pembentuk pegunungan, relatif
lebih cepat daripada gerak epirogenetik. Gerakan ini menyebabkan
tekanan horizontal dan vertikal di kulit bumi, yang menyebabkan
peristiwa dislokasi atau berpindah-pindahnya letak lapisan kulit bumi.
Peristiwa ini dapat menimbulkan lipatan dan patahan.
(1) Lipatan (kerutan)
Adanya gerakan tekanan horizontal yang berakibat berkerut dan
melipatnya kulit bumi, selain itu juga dapat menyebabkan terbentuknya
pegunungan di relief muka bumi. Contoh: pegunungan-pegunungan
tua, seperti Pegunungan Ural dan Allegani. Lipatan ini terjadi pada
zaman primer; pegunungan muda, seperti rangkaian Sirkum
Mediterania dan Sirkum Pasifik yang terjadi pada zaman tersier.
Rangkaian Pegunungan Mediterania dimulai dari Pegunungan Atlas,
Alpen, Balkan, Asia Muka, Himalaya, Hindia Belakang, Sumatra, Jawa,
Nusa Tenggara, sampai Maluku, sedangkan Sirkum Pasifik memanjang
dari pantai Pasifik Amerika, Jepang, Filipina, Papua, Australia, sampai
Selandia Baru.
Lipatan dibagi atas tiga lipatan yaitu: lipatan tegak, lipatan condong,
dan lipatan rebah. Punggung-punggung lipatan disebut antiklinal dan
lembah lipatan disebut sinklinal.
(2) Patahan (retakan)
Gerakan tekanan horizontal dan vertikal menyebabkan retak atau
patahnya lapisan kulit bumi. Misalnya: tanah turun (slenk), tanah naik
(horst), dan tanah bungkuk (fleksur).

0 komentar:

Poskan Komentar