Pages

Banner 468 x 60px

 

Minggu, 21 April 2013

Cara Penyambungan Bibit Tanaman Buah

0 komentar
Menurut Bernardinus (2006: 30),  penyambungan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sambung pucuk dan okulasi.
a). Sambung pucuk
Sambung pucuk merupakan penyatuan pucuk (batang atas) dengan batang bawah sehingga terbentuk tanaman baru yang cocok secara kompleks. Teknik sambung pucuk ini membutuhkan peralatan seperti alat pemotong (silet, cutter, atau pisau khusus untuk okulasi) plastik, tali raffia atau tali plastik. Tahapan penyambungan sebagai berikut:
1.      Batang bawah yang sudah siap disambung dipotong kira-kira 20 cm dari leher akar atau lebih kurang sekitar 2-3 cm di atas batang yangbberwarna hijau dan coklat. Permukaan batang yang telah dipotong ini kemudian dibelah menjadi dua, setiap bagian sama besarnya. Panjang belahan sekitar 2 – 5 cm.
2.      Batang atas yang akan disambungkan berupa pucuk cabang yang masih lengkap dengan kuncupnya dan dalam keadaan paling tua. Besar cabang yang digunakan harus sama besar dengan batang bawah dan dipotong sepanjang 2 – 3 ruas. Selanjutnya, daun-daun di batang atas ini dibuang dan disisakan tiga helai yang terletak paling ujung. Sisa daun paling ujung ini dipotong dan disisakan seperempatnya saja. Pangkal batang kemudian diiris miring di kedua sisinya sampai mengenai bagian kayunya.
3.      Batang atas yang sudah dipotong miring tadi disisipkan ke dalam belahan di ujung batang bawah. Kemudian, sambungan tadi diikat dengan tali rafia dan dikerudungi dengan plastik.
b) Okulasi
Okulasi adalah penempelan mata tunas dari pohon induk durian terpilih ke batang bawah yang sudah disiapkan. Untuk okulasi peralatan dan batang bawah yang digunakan sama dengan peralatan dan batang bawah pada sambung pucuk. Perbedaannya batang bawah pada okulasi harus sudah berumur lebih kurang 15 bulan. Tahap pelaksanaan okulasi antara lain:
1.   Pilih batang bawah yang sudah berumur kurang lebih 15 bulan dan dalam keadaan sehat. Kurang lebih 20 cm dari pangkal batang dibuat irisan yang berbentuk huruf T atau disayat sepanjang lebih kurang 2 cm.
2.      Mata tunas yang terpilih disayat dengan bentuk bulat atau persegi dengan panjang kurang lebih 1,5 cm mengelilingi mata tunas. Dalam pengambilan mata tunas ini harus diikutsertakan kambiunnya. Sebab, bila mata tunas yang diambil tidak ada kambiumnya bisa dipastikan okulasi yang dikerjakan gagal.
3.      Mata tunas yang sudah diperoleh disisipkan di bawah kulit batang pokok yang telah diiris. Dalam penyisipan atau penempelan mata tunas tidak boleh terkena kotoran pada kambiumnya karena dapat mengganggu penyatuan antara mata tunas dan batang pokok.
4.      Selanjutnya dilakukan pengikatan pada batang dengan tali plastik. Pengikatan ini dilakukan di seluruh batang yang telah disayat kecuali tepat di mata tunas.
Dalam waktu dua minggu keberhasilan sambung pucuk dan okulasi sudah dapat dilihat yaitu pada mata tunas masih berwarna hijau dengan ujung kemerahan dan memperlihatkan tanda-tanda perkembangan tunas. Sedangkan pada sambung pucuk dan okulasi yang gagal akan terlihat mata tunas yang telah kering. Pada bibit yang diokulasi, yang mata tunasnya sudah tumbuh, batang atas tanaman asli dipotong lebih kurang 1 cm di atas mata tunas. Bekas potongannya diolesi dengan fungisida untuk mencegah penyakit jamur (Bernardinus, 2006: 34).
Selama dalam proses penyambungan atau penempelan tersebut tanaman harus secara kontinu disiram. Setelah tunas atau sambungan tadi mengeluarkan daun baru dan subur, diberikan pupuk, bisa menggunakan pupuk NPK atau pupuk daun. Pada umur 8 – 10 bulan sejak penempelan tanama durian sudah bisa dipindahkan ke areal penanaman (Bernardinus, 2006: 34).

0 komentar:

Posting Komentar