Pages

Banner 468 x 60px

 

Senin, 04 Maret 2013

jenis- jenis Curah Hujan

0 komentar
Hujan adalah peristiwa jatuhnya buir-bitir air dalam bentuk cair atau padat dari atmosfer menuju bumi. Hampir seluruh hujan di daerah tropis berbentuk cair, sedangkan di daerah kutub berupa es atau salju, salju terbentuk karena sublemasi uap air pada temperatur di bawah titik beku, sedangkan es terbentuk karena butir-butir air terangkat sampai di tempat yang temperaturnya di baeah titik beku.
Besar kecilnya curah hujan antara lain dipengaruhi oleh arus udara, besarnya perairan, intensitas panas matahari, topografi, serta banyak sedikitnya asap pabrik dan kendaraan bermotor. Oleh karena itu, besarnya curah hujan berbeda-beda menurut waktu dan tempat. Besarnya curah hujan dapat diukur dengan gekas ukur (rain gauge). Alat tersebut ada dua maacam, yaitu alat pengukur curah hujan bias dan lat ukur curah hujan otomatis. Tujuan pengukuran curah hujan adalah untuk mengetahui jumlah dan intensitas curah hujan yang turun di permukaan yang datar tanpa memeperlihatkan adanya air yang meresap, mengalir, dan menguap. Satuan yang digunakan adalah laju curah hujan dalam jangka waktu tertentu, misalnya mm/jam. Berdasarkan besarnya curah hujan, hujan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu hujan gerimis/rintik-rintik (kurang dari 2,5 mm/jam), hujan sedang (2,6 - 7,5 mm/jam), dan hujan deras/lebat (lebih dari 7,5 mm/jam).
Berdasarkan proses terjadinya, hujan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1) hujan konveksi
HUjan konveksi terjadi karena pemanasan radiasi  matahari sehingga udara permukaan akan memuai dan anik secara vertikal. Hujan konveksi disebut juga hujan tropik atau hujan zenithal karena terjadi di daerah ekuator (tropik) saat Matahari berada di titik zenit. Jika massa uap air banya, maka akan terbentuk awan Comulonimbus yang menjulang tinggi. Hal ini akan mengakibatkan hujan lebat (heavy shower), tetapi tidak berlangsung lama dan hanya mencakup daerah sempit. Hujan konveksi tidak efektif untuk pertumbuhan tanaman karena air hujan sebagian besar dalam bentuk arus permukaan

2) Hujan orografis
Hujan orografis terjadi karena udara yang mengandung uap air naik ke daerah pegunungan. Makin ke atas suhu udara makin dingin sehingga terjadilah proses kondensasi dan kemudian terjadi hujan di lereng pegunungan, sedangkan di lereng sebelahnya bertiup angin terjun yang kering dan panas. Daerah tempat terjadinya angin terjun itu di sebut daerah bayangan hujan (rain shadow).
3) Hujan frontal
Hujan frontal terjadi karena pertemuan massa udara panas dengan massa udara dingin. Daerah pertemuannya disebut daerah front. Oleh karena massa udara panas kurang padat sehingga naik di atas massa udara dingin dan terjadi kondensasi, kemudian terjadi hujan

0 komentar:

Posting Komentar