Pages

Banner 468 x 60px

 

Jumat, 31 Agustus 2012

Pendekatan-Pendekatan dalam Penginderaan Jauh

0 komentar
Dalam praktek penginderaan jauh pembuatan peta dari foto udara menggunakan pendekatan dalam analisis datanya yang meliputi ;
1.      Bentuk lahan.
Klasifikasi bentuk lahan didasarkan pada : genesis, proses, dan batuan, seperti yang dikemukakan oleh Verstappen, 1985 dalam Suprapto, 1997; 31-104. Berdasarkan genesanya bentuk lahan dibedakan menjadi 9  jenis, yaitu;
a)        Bentuk lahan bentukan asal vulkanis, merupakan bentukan lahan dari proses vulkanisme atau gerakan magma yang naik ke permukaan bumi. Contoh bentukan lahan vulkanis yaitu : Kawah, Kaldera, Kerucut gunungapi, Lereng atas gunungapi, Lereng tengah gunungapi, Lereng bawah gunungapi, Lereng kaki fluvial gunungapi, Lembah gunungapi (barranco), Medan lava, Medan lahar, Volcanic neck, Bocca, Kubah lava, Dataran tinggi lava, Dataran fluvial gunung api, dan Sumbat lava.
b)        Bentuk lahan bentukan asal struktural, merupakan bentukan lahan yang terbentuk karena adanya proses endogen yakni proses tektonik atau diatrofisme. Proses ini dapat berupa pengangkatan,  penurunan dan pelipatan kerak bumi sehingga terbentuk struktur geologi yaitu 1) lipatan, 2) Patahan. Contoh bentukan lahan struktural meliputi: Dinding terjal, Rombakan kaki lereng, Lahan rusak, Daerah dengan gerak masa, Kerucut talus (kipas koluvial), dan Monadnock.
c)        Bentuk lahan bentukan asal proses denudasional, merupakan bentukan lahan hasil dari proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan dan proses pengendapan. Bentukan lahan asal proses ini biasanya terdapat pada daerah dengan Topografi berombak, bergelombang, berbukit atau bergunung yang berbatuan lunak (akibat dari proses pelapukan) dan beriklim basah sehingga bentuk srukturnya tidak nampak lagi karena adanya gerak masa batuan. Adapun beberapa fenomena yang nampak pada bentukan lahan asal denudasional antara lain;  pegunungan denudasional, perbukitan denudasional, perbukitan terisolasi, nyaris dataran, lereng kaki, gabungan kipas aluvial, dinding terjal, rombakan kaki lereng, lahan rusak, daerah dengan gerak masa, kerucut talus (kipas koluvial), dan monadnock.
d)       Bentuk lahan bentukan asal proses fluvial, merupakan  bentuk lahan yang disebabkan oleh proses fluvial yakni proses air mengalir baik memusat (sungai) maupun oleh aliran permukaan bebas (overland flow). Ketiga akitivitas ini mencangkup; erosi, transportasi, dan deposisi/sedimentasi. Adapun contoh bentukan asal proses fluvial yaitu: daratan aluvial, dasar sungai/sungai mati, rawa belakang, daratan banjir, tanggul alam, lakustrin, ledok fluvial, gosong lengkung alam (point bar), teras fluvial, kipas aluvial, crevasse-spalaye, delta dengan berbagai tipenya, dan igir fluvial.
e)        Bentuk lahan bentukan asal proses marin, merupakan bentukan lahan yang terjadi akibat pasang surut, gelombang air laut. Bentukan lahan ini biasannya terdapat di pesisir lautan. Kenampakan-kenampakan yang bisa muncul dari aktivitas marin ini meliputi; rataan pasang surut, platform, chiff dan notch, spit, lidah gosong pasir laut, ledok antara beting pasir laut, hamparan lumpur, daratan pantai, daratan aluvial pantai, teras marin, gisik, beting gisik, tombolo, dan lagun.
f)         Bentuk lahan bentukan asal proses angin (aeolin), merupakan bentuk lahan diakibatkan oleh proses angin, gerakan udara dapat membentuk bentuk lahan yang spesifik, dan berbeda dari proses yang lainnya. Bentuk lahan ini dapat membentuk kenampakan-kenampakan seperti: gumuk pasir dan debu endapan angin.
g)        Bentuk lahan bentukan asal proses pelarutan, terbentuk dari pelarutan batuan kapur/gamping. Bentukan lahan ini membentuk kenampakan-kenampakan antara lain, plateau karst, hillocks, doline, uvala, dan poljes.
h)        Bentuk lahan bentukan asal proses Glasial, terbentuk oleh pencairan es/salju yang umumnya terdapat didaeraha lintang tinggi maupun tempat-tempat yang mempunya elevasi tinggi dari muka air laut. Bentuk lahan ini dibdakan menjadi 2 yakni erosional dan deposisional. Contoh bentuk lahan asal proses glasial yaitu circui dan horn.
i)          Bentuk lahan bentukan asal Aktivitas Organisme, Menurut Verstappen (1977) dalam Suprapto (1997), bentuk lahan organik bukan hanya terumbu karang saja, akan tetapi termasuk pesisir bakau (mangrove coast) dan ranca gambut (peat bog).
2.      Kemiringan Lereng
Selain bentuk lahan, kemiringan lereng juga sangat diperlukan untuk mengetahui karakteristik wilayah. Adapun kemiringan lereng daerah tersebut adalah:
a)                  0 – 2 %  tergolong datar
b)                  2-8  % tergolong landai
c)                  8-15 % tergolong bergelombang
d)                 15-25 % tergolong terjal
e)                  25-40 % tergolong sangat terjal.
f)                   Lebih dari 40%  tergolong sangat terjal sekali
3.      Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan yaitu setiap bentuk campur tangan manusia terhadap sumber daya lahan, baik sifat menetap maupun merupakan daur ulang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebendaan maupun kejiwaan (spritual) atau kedua-duanya. Dari pengertian tersebut dapat dilihat bahwa penggunaan lahan sangat erat kaitanya dengan aktivitas manusia dan sumber daya lahan. Oleh karena itu penggunaan lahan bersifat dinamis, mengikuti perkembangan kehidupan manusia dan budaya. Adapun contoh penggunaan lahan adalah pemukiman, jalan, sawah, kebun campuran, sungai, lahan kosong, tegalan dan lain sebagainya.

0 komentar:

Posting Komentar