Pages

Banner 468 x 60px

 

Selasa, 10 Juli 2012

Cerpen Horor: nyanyian penggali kubur

0 komentar
PENGGALI Kubur! Itu pekerjaannya dan itu pula yang kemudian menjadi namanya. Sudah 44 tahun dia bekerja. Setiap hari, setidaknya dia menggali satu liang kubur. Jadi selama 44 tahun, total jenderal dia sudah menggali 16.060 liang kubur.

Dia menggali kubur setiap hari sejak berusia 15 tahun. Dia menggali di setiap pekuburan di kota kami. Tak cuma menggali, dia juga terlibat penguburan. Dalam beberapa kasus, dia sendirian mengubur si mati. Itulah mayat orang yang semula dikenal sebagai orang gila. (Mengherankan, orang-orang gila seperti tak habis-habis berdatangan ke kota kami. Satu mati, tumbuh seribu. Satu hilang, seribu terbilang. Mereka muncul, silih berganti, entah dari mana. Konon, sesekali ada truk menurunkan mereka di tengah hutan jati di perbatasan kota.)


Kau mungkin berpikir, jika setiap hari dia menggali satu liang kubur, boleh jadi lantaran serakah, ingin memperoleh upah dari setiap galian. Jangan salah. Tidak setiap kali menggali kubur dia beroleh upah. Acap kali dia cuma beroleh sebungkus nasi, sekantong plastik minuman, dan ucapan terima kasih. Bahkan beberapa kali sekadar ucapan terima kasih pun tidak.

Namun apa pula yang bisa dilakukan Penggali Kubur jika bukan menggali kubur? Jadi, ada upah atau tidak, ada ucapan terima kasih atau tidak, setiap hari selama 44 tahun dia terus menggali kubur. Siapa pun yang mati, di mana pun mereka mati, tak peduli kematian macam apa yang menjemput mereka, dia tetap dan terus menggali kubur.

Dan, dengarlah. Seraya mengayunkan cangkul, dia selalu menembangkan lagu. Lagu yang itu-itu juga.



Ilir-ilir lir-ilir

tandure wus sumilir

tak ijo royo-royo

tak sengguh penganten anyar


Cah angon, cah angon

penekna blimbing kuwi

lunyu-lunyu penekna

kanggo mbasuh dodotira


Dodotira, dodotira

kumitir bedhah ing pinggir

dondomana jlumatana

kanggo seba mengko sore


Mumpung padhang rembulane

mumpung jembar kalangane

yo suraka

surak hore [1]



Ah, sebenarnya tak tepat menyebut dia menembang. Bahkan sekadar rengeng-rengeng sekalipun tidak. Lebih pas: dia menggumamkan lagu. Ya, dia selalu menggumamkan lagu, yang konon ciptaan Sunan Kalijaga, itu. Tanpa cengkok, tanpa irama. Nyaris datar dan monoton, seperti merapal mantra. Berulang-ulang sampai penggalian lubang kubur usai, sampai penguburan selesai. Lalu, dia bergegas pergi setelah gumpalan tanah terakhir dilemparkan pentakziah, sebelum berkeranjang-keranjang kembang ditaburkan ke atas gundukan tanah.

Tak ada yang tahu ke mana dia pergi. Tak ada yang peduli. Kata orang, dia pergi mengikuti kesiur angin yang tersibak sayap-sayap malaikat pencabut nyawa. Dia pergi menjemba kabar kematian.

Banyak orang percaya, dia tahu belaka siapa bakal mati hari ini. Terbukti, kapan pun, di mana pun, dan siapa pun yang mati—bahkan sebelum kabar kematian seseorang menyebar, dia sudah datang dan menggali kubur sembari menggumamkan tembang. Nyaris datar, monoton, tanpa cengkok, tanpa irama. Berulang-ulang. Ilir-ilir, ilir-ilir…. Empat puluh empat tahun sudah, 16.060 liang kubur.

***

NAMUN, pagi ini, di pekuburan kampung kami, orang-orang geger. “Ada yang aneh,” ujar seseorang.

Kini, tak seperti biasa, sembari menggali kubur dia bernyanyi. Ya, dia bernyanyi sesungguh benar bernyanyi. Tak keras, tetapi hampir setiap pentakziah mendengar belaka: dia bernyanyi! Bukan lagi menggumamkan tembang Ilir-ilir tandure wus sumilir!

Dan, dengarlah, dia menyanyikan lagu lain. Suaranya terdengar sendu, terdengar pilu.



Di mana akan kucari

aku menangis seorang diri

hatiku slalu ingin bertemu

untukmu aku bernyanyi



Untuk Ayah tercinta

aku ingin bernyanyi

walau air mata di pipiku


Ayah, dengarlah

aku ingin berjumpa

walau hanya dalam mimpi


Lihatlah, hari berganti

namun tiada seindah dulu

datanglah, aku ingin bertemu

untukmu aku bernyanyi [2]



Orang-orang menggeremang. Berdebat dengan suara tertahan. Apalagi ketika dia tak cuma menyanyikan lagu yang dipopulerkan Charles Hutagalung itu. Dengar, dengarlah, kini dia menyanyikan balada Ebiet G Ade pula.



Dari pintu ke pintu

kucoba tawarkan nama

demi terhenti tangis anakku

dan keluh ibunya

Tetapi nampaknya semua mata

memandangku curiga

seperti hendak telanjangi

dan kuliti jiwaku



Apakah buku diri ini

harus selalu hitam pekat

apakah dalam sejarah

orang mesti jadi pahlawan

sedang Tuhan di atas sana

tak pernah menghukum

dengan sinar matanya yang lebih tajam

dari matahari


Ke manakah sirnanya

nurani embun pagi

yang biasanya ramah

kini membakar hati

apakah bila terlanjur salah

akan tetap dianggap salah

tak ada waktu lagi benahi diri

tak ada tempat lagi untuk kembali



Kembali dari keterasingan

ke bumi beradab

ternyata lebih menyakitkan

dari derita panjang

Tuhan bimbinglah batin ini

agar tak gelap mata

dan sampaikanlah rasa inginku

kembali bersatu [3]



Bisik-bisik mengeras menjelang akhir penguburan. Orang-orang tak tahan. Sebelum lemparan tanah terakhir dan kembang tertabur di gundukan tanah, seseorang menghalangi langkah Penggali Kubur, yang seperti biasa bersigegas pergi.

“Tunggu! Aku cuma mau bertanya,” kata orang itu. “Kenapa kau bernyanyi? Kenapa bukan Ilir-ilir lagi? Ada apa? Mengapa?”

Penggali Kubur membisu. Dia menyimpang jalan, terus melangkah. Orang-orang adu argumentasi. Berdebat. Ramai. Tanpa simpulan yang bisa mereka percayai sebagai kebenaran.

Diam-diam aku memisahkan diri dari para pentakziah. Dari jarak yang kuanggap aman, aku menguntit Penggali Kubur. Dia terus melangkah tanpa menengok atau menoleh kiri-kanan. Langkah kakinya tetap, tak berkesan terburu-buru. Juga tak seperti orang sedang berjalan-jalan mencuci mata.

Dari kejauhan kulihat dia berbelok, menuruni jalan setapak menuju ke sungai. Tak mungkin terus menguntit dia tanpa ketahuan. Itu satu-satunya jalan yang harus kulalui, kecuali ingin kembali. Kepalang basah. Aku pun bergegas menyusul.

“Duduklah,” ujar Penggali Kubur. Dia duduk di atas batu, mencangkung membelakangi arah kedatanganku, memandangi air sungai.

Dengan menekan ewuh, sungkan, karena ketahuan menguntit, aku pun duduk di atas batu lebih rendah. “Maaf,” kataku seraya menekan debar di dada.

Sembari tetap mencangkung, menekuri permukaan air sungai, dia mengucap. Pelan, tetapi terasa mendengking di kuping.

“Di sungai inilah, dulu, 44 tahun lalu, kulihat mayat Bapak terhanyut entah ke mana. Dia terselip di antara puluhan mayat lain. Namun aku yakin, itulah mayat Bapak. Mereka membunuh dan membuang jasadnya ke sungai ini,” kata dia.

Aku terdiam.

“Tak ada orang berani menepikan mayat-mayat itu agar bisa dikubur secara layak. Tak seorang pun. Puluhan mayat, berpuluh-puluh mayat, sehingga air sungai ini memerah, berlumpur darah.”

Aku tergugu.

“Kau tahu, sepeninggal Bapak, Ibu kehilangan kewarasan. Dia menyusuri jalanan kota, siang-malam. Mencari bapakmu,” katanya. “Dia makan dengan mengais-ngais setiap timbunan sampah, di bawah terik matahari, di bawah guyuran hujan. Suatu saat, Ibu ditemukan tergeletak di tepian sungai ini. Mati. Aku pun mengubur dia, sendirian. Sejak saat itulah aku memutuskan jadi penggali kubur.”

“Kenapa?” tanyaku, memberanikan.

“Aku tak ingin orang-orang itu tak terkuburkan secara layak seperti Bapak. Tak ada alasan bagi siapa pun untuk membiarkan orang mati tanpa dikubur secara semestinya. Apa pun agama mereka, apa pun keyakinan mereka. Tapi kau malah ikut-ikutan orang lain meributkan kenapa aku cuma menggumamkan lagu bertahun-tahun, lalu tiba-tiba kini bernyanyi. Apa tak ada urusan lebih penting, selain mengurusi pedalaman orang lain?” ucap dia.

Sekilas aku melihat kilatan mata setajam silet. Aku tertunduk. “Maaf, aku tak bermaksud….”

“Ya, bahkan kau dan seluruh keluargamu sudah menganggap aku gila. Siapa lebih gila? Aku atau bapak dan ibumu serta kalian semua, anak-anak mereka? Bahkan nasib kakekmu yang mati dibunuh dan dibuang di sungai ini, juga nenekmu yang bunuh diri di tepian sungai ini, tak pernah masuk hitunganmu, tak pernah jadi keprihatinan keluargamu. Sekarang, apa pula yang hendak kauminta dariku?” ucap dia, menetak gendang telingaku.

Aku terdiam, mengeriut.

“Pulanglah. Tak perlu kaupedulikan aku. Tak penting pula aku bernyanyi atau tidak. Toh itu tak mengubah apa pun. Aku cuma penggali kubur dan tetap jadi penggali kubur. Sampai kapan pun,” ujar dia seraya bangkit, melangkah, tanpa menoleh.

Aku masih terdiam, menjublak di tepian sungai. Aku memandangi permukaan air, yang makin lama kian merah. Seperti darah. Darah yang membarah. (*)



Patemon, 26 September 2010

0 komentar:

Posting Komentar