Pages

Banner 468 x 60px

 

Rabu, 18 Juli 2012

Cinta dan Logika

0 komentar
Apa yang kukisah ini, akan bercerita tentang cinta dan logika. Mungkin kita beranggapan bahwa cinta dan logika takkan pernah sejalan dan bahkan ada yang mengatakan “ cinta tak perlu logika “, namun benarkah hal itu ? bacalah cerpen ini , bila anda memahaminya dengan baik maka anda akan mengerti apa itu cinta dan apa itu logika……………………

Gempa Tsunami Aceh, lautan bergejolak, bumi berguncang, seakan menunjukkan kekuatannya kepada manusia yang tak berdaya. Air pasang menyapu pantai , menggusur dusun nelayan ditepi pantai, menghempas dengan kerasnya, menghanyutkan semua yang dilaluinya tanpa terkecuali. Ribuan orang berteriak minta tolong bahkan mengangungkan nama-Nya. Namun takdir telah tertulis, menundukkan manusia akan kekuasan-Nya.


“ Syarifah….syarifah..!! “ , Hidayat berteriak memanggil istrinya yang lepas dari genggamannya. Air begitu deras, mengalahkan tenaga manusia yang tak kuasa dengan kekuatan alam yang begitu perkasa. “ Abang…..abang…..!! “ , Suara Syarifah yang terdengar jauh , sayup-sayup diantara suara gemuruh air yang terus menyusuri dan seakan tak memperdulikan apa yang ada didepannya. Hidayat terus berpelukan pada sebatang pohon kelapa, mulutnya tak henti mengucapkan doa pada-Nya, memohon ampun dan pertolongan dari Sang Pencipta alam semesta.

Air surut, dengan sisa tenaga Hidayat mencoba untuk mencari istrinya. Namun sia-sia , sepanjang perjalanannya, yang ada hanya puing-piung rumah kayu yang berserakan. Semua rata, tak ada satu rumahpun yang berdiri tegak. Hidayat hanya dapat terduduk lemas, matanya bengkak akibat tangis yang tak kunjung henti , pikirannya berkecamuk , bimbang dan takut, dikanan kirinya hanya mayat dan mayat dengan berbagai rupa dengan meninggalkan bekas kedasyatan kekuatan alam , yang tanpa belas kasihan. Ya , tsunami telah memisah mereka , memisahkan suami dengan istri , ayah ibu dengan anaknya, adik dengan kakaknya, saudara dengan saudaranya.

Hari demi hari , Hidayat tak pernah menyerah , dia terus mencari Syarifah istrinya. Banyak orang menasehatinya, agar ia melupakan Syarifah karena sudah berbulan-bulan tiada khabar dari Syarifah istrinya. Tapi ia tidak pernah menyerah , hampir rata diseluruh penampungan ia datangi , foto demi foto jenazah yang terpampang dinding posko demi posko dicermatinya satu persatu. Ia yakin istrinya masih hidup karena ia tidak menemukan foto jenazah istrinya dimanapun. Informasi demi informasi didapatkannya , dengan hanya bermodalkan sebuah foto pernikahan yang lusuh , ia terus mencari dan mencari tiada henti. Ia makan dari penampungan satu ke penampungan lain dan tak peduli akan kesehatannya yang mulai memburuk.

Siang itu dikota Medan , sinar mentari begitu terik. Hidayat hanya terduduk menyaksikan orang yang lalu lalang, disuatu pasar dikota itu. Tiga tahun telah berlalu, namun asanya untuk menemukan istrinya tak kunjung padam dihatinya. Seorang lelaki di salah satu penampungan mengaku pernah melihat istrinya yang dibawa oleh seorang lelaki yang katanya ingin pindah ke Medan. Itulah sebabnya mengapa ia ada dikota ini. Dari hari kehari ia berpindah hidup dari satu mesjid ke mesjid lain, kerja seadanya, hanya untuk makan menyambung hidup. Hingga suatu saat matanya seakan berhalusinasi melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Syarifah istrinya. “ Syarifah…” gumamnya lalu menggosokkan matanya berkali. “ Ya tak salah lagi itu Syarifah..”, pikirnya. Lalu perlahan ia mendekati wanita yang sedang menawar baju anak-anak disalah satu lapak kaki lima. “ Maaf bu….apakah nama ibu Syarifah..?? “ tanya hidayat menahan keharuannya. Wanita itu hanya terdiam sesaat lalu berkata , “ Bukan … nama saya fatimah, pak…maaf apa bapak menyenal saya ?? “. Keningnya terlihat mengkerut , pandangannya begitu dalam dengan Hidayat, seakan nalurinya merasakan ada sebuah ikatan dimasa lalu. “ oh maaf , kalau boleh saya tahu , anda berasal dari mana ? “ tanya Hidayat ingin memperdalam keyakinannya walaupun ia ragu dalam hatinya. “ saya dari Aceh, selepas tsunami saya beserta suami tinggal di sini..! “ , “ tapi saya tidak ingat siapa saja keluarga saya disana , bahkan ingatan masa kecilpun saya tak ingat….!”, “ apakah anda mengenal saya dan keluarga saya ?? “ tanya wanita itu yang seakan-akan juga ingin mengetahui masa lalunya, maklum sudah lebih dari tiga tahun ia tidak pernah kembali ke Aceh. “ Hmmm … maukah anda melihat foto ini ? “ , tanya Hidayat sambil memperlihatkan sebuah foto pernikahan yang mulai mengabur. Wanita itu mengambilnya lalu memperhatikan foto itu dengan seksama, lalu ……. Wanita itu langsung hilang kesadaran dan jatuh pingsan. Hidayat kaget dan segera memegang wanita itu agar tidak terjerembab ke tanah, lalu dibantu oleh wanita penjual baju kaki lima itu , hidayat berusaha menyadarkannya sambil mengipas-ngipas muka Syarifah yang telah berganti nama menjadi Fatimah. Tak lama kemudian Syarifah mulai sadar , “ abang….!”, suaranya begitu menyayat hati beriring air mata mengalir dipipinya. Langsung wanita itu memeluk Hidayat. Hidayat tak sanggup menahan air matanya, yah itulah pertemuan setelah tiga tahun lebih berlalu , akhir dari pencarian panjangnya kini telah membuahkan hasil.

Hidayat dan Syarifah duduk pada sebuah kedai nasi sederhana, kedua tangan mereka saling menggenggam erat. Hidayat menceritakan perjalan panjangnya, perjalanan pencariannya yang tak mengenal menyerah, dari satu penampungan ke penampungan lain, hingga ia sampai di medan dan menemukan Syarifah yang ia cari selama ini. Syarifah tak kuasa menahan air matanya mendengarkan kisah pencarian suaminya itu. Namun takdir telah berkata lain, walaupun pahit dan mengucurkan air mata, Syarifah menceritakan kisah hidupnya setelah tsunami hingga ia sampai dikota medan ini. Ia memohon ampun dan maaf pada Hidayat karena semua itu diluar dari kemampuan dan kesadarannya, akibat hilang ingatan yang dideritanya setelah tsunami. Syarifah bercerita bagaimana pertemuannya dengan Marwah yang telah membantu mengobatinya, bahkan saat Marwah menikahinya , ia masih tidak ingat siapa dirinya dan masa lalunya , hingga hari ini saat ia melihat foto pernikahan mereka , foto pernikahan Hidayat dan Syarifah, baru ingatan masa lalu Syarifah kembali tergambar olehnya. Hidayat menahan sakit didadanya , begitu perih dirasakannya, seakan punah sudah kebahagiaan yang tadi ia rasakan, saat berjumpa dengan Syarifah. Namun ia berusaha tabah , Hidayat memaklumi keadaan yang menimpa Syarifah saat setelah tsunami hingga hari ini, dengan tersenyum Hidayat berkata , “ Sudahlah Syarifah , Allah telah mengabulkan doaku, agar engkau diberikan keselamatan dari gelombang pasang hari itu, itu sudah lebih cukup bagiku…..”. Syarifah masih tertunduk menciumi tangan Hidayat, dengan tangis yang tak kunjung henti. Orang-orang memperhatikan mereka , tapi kedua insan itu tidak memperdulikan sekelilingnya.

“ Pulanglah dulu Syarifah……nanti aku akan ke rumahmu dan aku akan membicarakan hal ini secara baik-baik dengan Marwah , suamimu yang sekarang , tenanglah ….hapuslah airmatamu, mengucap syukurlah pada-Nya karena telah mempertemukan kita kembali …”, Hidayat mengelus rambut Syarifah dan menghiburnya. Syarifah mengangkat kepalanya namun masih tertunduk malu didepan Hidayat. “ Tulislah alamatmu disini….”, Hidayat menyodorkan sebuah buku alamat kecil yang kumal dan sebuah pena. Syarifah menghapus air matanya dan menuliskan alamatnya dibuku kecil itu.

Setahun telah berlalu dari saat perjumpaan Hidayat dan Syarifah di kota medan. Hingga suatu hari ada sepucuk surat dari Jakarta tiba dirumah Syarifah. Di dalam amplop ada amplop lagi, pada lembar pertama Syarifah membaca :

Kepada Yth. Ibu Fatimah / Syarifah
Di Tempat
assalamualaikum

Bersama surat ini , saya kirimkan surat dari Mas Hidayat. Beliau adalah lelaki yang baik. Saya tinggal bersamanya di salah satu mesjid di Jakarta. Ia telah menceritakan kisah hidupnya pada saya. Hingga akhir hidupnya mas Hidayat berpesan pada saya untuk tidak menghubungi ibu dan memberitahukan keberadaannya , namun hati saya berkata lain. Saya harus menyampaikan surat dari beliau, yang selama ini selalu ada disakunya, yang tak pernah ia kirimkan pada ibu, hingga akhir hayatnya. Kini beliau sudah tenang disisi Yang Maha Kuasa. Saya mohon agar ibu mendoakan beliau. Maaf bila saya sempat membaca surat tersebut. Karena dari membacanya, saya berpikir untuk tetap mengirimkan surat tersebut pada ibu. Wassalam….

Sahabat mas Hidayat

Lalu dengan tangan gemetar Syarifah membuka amplop kedua tersebut , lalu membacanya dengan berurai air mata :

Syarifah buah hatiku,

Entah kapan aku mampu untuk mengirimkan surat ini padamu. Betapa aku sangat mencintaimu. Kampung demi kampung telah kutempuh, kota demi kota telah kususuri, demi mencari dirimu cahaya hatiku, namun engkau hilang bagai ditelan bumi. Tiada khabar dan berita, saat itu aku hampir putus asa. Aku bertanya kesana kemari , dengan bermodalkan sebuah foto pernikahan kita, yang berhasil kuselamatkan dari sisa puing-puing rumah kita. Rumah kita yang telah rata diseret gelombang besar sekaligus memisahkan cinta dan cita-cita kita.

Setiap hari aku hanya berdoa pada-Nya , semoga engkau diberikan keselamatan dan lindungan-Nya, dan Allah mengabulkan doaku itu sampai aku dapat bertemu dengamu. Syarifah, hari demi hari kesehatanku, tak kunjung membaik. Namun aku tak pernah mengeluh sayangku, karena aku bahagia, setelah perjalanan panjangku akhirnya aku menemukanmu. Tiada lukisan didunia yang mampu melukiskan betapa bahagianya aku saat itu, dan ingin kembali merajut hidup bersamamu. Namun pikiranku berkata lain, engkau telah bahagia bersamanya. Aku melihat engkau duduk dengan seorang anak dipangkuanmu dan dia suamimu ada disampingmu. Aku melihat kalian tertawa gembira melihat tingkah polah anakmu. Yah…tak sanggup hatiku untuk merebut kebahagiaan itu Syarifah, tak sanggup aku untuk membuatmu menderita untuk kedua kalinya. Biarlah cinta ini kusimpan didalam hati dan kubawa pergi selamanya. Selamat berbahagia Syarifah, jangan mencariku karena akupun mungkin akan mencari kebahagiaan lain, bukan karena benci aku tak menepati janjiku untuk bertemu denganmu lagi tapi karena akalku berkata demikian, demi cintaku dan cinta kita .

sumber :http://ceritamimpiku.yolasite.com

0 komentar:

Posting Komentar