Pages

Banner 468 x 60px

 

Jumat, 22 Juni 2012

Cerpen sedih : Sebuah diary ku untuk ibu

0 komentar
Tidak tau harus bagaimana keadaan sungguhlah berat bagi ku tuk ku jalani, tiada belas kasih yang kudapat layaknya seperti anak-anak pada umumnya. Semenjak ibu q bercerai dengan ayah ku delapan tahun yang lalu saat aku berumur lima tahu, dari situlah mulai kebahagiaan ku direnggut oleh ibu tiri ku, aku tak mengerti kenapa bapak sama ibuku bisa bercerai, ada yang bilang sih karena bapakku selingkuh dengan ibu tiri ku dulu, yang pasti aku tak tau yang pasti penyebabnya. Aku pingin sekali ketemu ibu tapi sayang aku gak tau di mana ia sekarang terus aku juga gak tau wajahnya sekarang, hanya foto keluarga kecil yang berisi foto dian,ibu dan ayah yang berwarna hitam putih saat aku masih bayi, yang sekarang yang robek ini yang aku punya, ibu tiriku memeang kejam
foto satu-satunya tempat aku bisa curhat sama ibu ku di di sobek. Aku tak tau apakah sebua ibu tiri se kejam ini ingat pada pagi itu saat makan di meja makan ada ayah, adik tiri ku dan ibu tiriku, semuanya baik-baik pada ku semua ramah seolah-olah ibu tiriku menyayangi ku. Tapi saat ayah pergi kerja semuanya berbeda makanan enak  yang aku makan di suruh muntahin kalo tidak aku di pukul, bagai mana aku bisa melakukan hal  itu,makanan yang ku makan tak bisa aku keluarkan lagi, terpaksa aku menerima ukulan bertubi-tubi dari ibu tiri ku, aku hanya diam saja tak melakukan apa-apa, aku pun makin lama makin terbiasa dengan hal itu, memang sakit tapi aku tak menangis, menangis juga tak ada gunanya. Pada siang harinya saat perutku mulai lapar aku gak berani langsung mengambil makanan aku meinta izin pada ibu tiriku,
“ ibu, saya lapar saya boleh makan buk.....? dengan nada meminta belas kasihan
“apa makan-makan aja kerjaanya berapa habis duit bapak mu hanya memberimu makan!!!!”
“tapi buk , adik sama ibu kan udah makan aku belum makan , lapar sekali buk.....”
“lapar-lapar aja kerjaan mu, mau ibu pukul?”
“ndak buk..... tapi.......”
“yaudah... cuci piring dan baju-baju yang kotor baru kamu boleh makan,....!’’ sambil membentak
Akhirnya tdengan perut yang lapar aku melakukan pekerjaan itu, lelah dan tak bertenaga rasanya akhirnya aku bisa menyelesaian pekerjaan itu.
“buk saya sudah selesai melakukan pekerjaan apa saya boleh makan?’’
“udah ngepel kamu?!”
“ngepel..? tapi ibuk gak suruh aku ngepel....”
“ya sekarang ngepel baru ibuk kasi makan!”
Terpaksa lah tampa ngomong apa-apa aku melakukan pekerjaan itu, tangan dan kakiku bergemetar menahan rasa lapar,akhitnya aku selesai dan duduk di sopa kamar tamu ku, datanglah ibu tiri ku itu sambil marah-marah.
“ngapain kamu duduk di sana, sofa mahal2 itu nanti kotor!”
“biasanya kan aku biasa duduk di sini bu...”
“sekarang tidak lagi, kalau ada bapak mu itu baru boleh.. “
“Bentar dulu saya ambilkan makan buat kamu”
Akhirnya aku di kasi makan aku sudah tau pasti menu makanan ku hanya nasi putih, sebidang tempe sama garam. Akhirnya ibu ku datang dengan membawa makanan ku yang sekiranya aku udah tau apa isinya, karena laparna saya pun makanya dengan lahap, jika perut lapar apa aja yang di makan pasti rasanya enak sekali. Makanya betapa aku jadi menghargai hidup ini. Tapi yang saya herankan anjing peliharaan keluarga kami lebih baik menunya dari pada makanan yang aku makan sekarang. Lauk ikan atau danging ayam jatah makan siangku pasti dikasi jhoni (anjing golden peliharaan keluarga kami)
Setiap pagi sampai sore selalu mendapat siksaan. Berapa hari berselang saya putuskan untuk tidak makan siang. Aku sudah capek dengan segala pekerjaan berat yang aku kerjakan dengan perut yang kosong, mending aku jalan-jalan aja dengan perut yang kosong. Akhirnya aku jalan2 ke rumah paman dan bibik  dari ayah ku yang jaraknya 5 km dari rumah ku. Akhirnya sampai juga di rumah bibik ku, disana saya di perlakukan dengan baik, mereka tau bahwa kau sering diperlakukan semena-menena oleh ibuk ku itu. Sampai di depan rumah paman dan bibik ku
“dian.. mari masuk “sapa paman dan bibik ku
“ia bik.....” akhirnya aku masuk kerumah bibik ku
“dian kam di ijinkan main-main ke mari, gaman apa kamu masih dipukuli ama ibuk tiri mu?”
“ya bik di izinkan orang main2 aja kok, lama tak kemari Cuma sampai sore aja kok”
“yang sabar aja ya nak... badai pasti berlalu (mereka menyemangati ku), oya apa kamu udah makan dian”
Dengan berbohong aku pun jawab”udah bik baru tadi siang aku makan”
Mungkin paman dan bibik ku tau aku berbohong jadinya ia sedikit memaksaku
“oya makan lagi sana bareng kami, kami mau makan masak tamu yang datang gak ikun makan, janganlah sungkan sama keluar sendiri kok...... kemari juga jarang.. ayo makan...” denagn memegang tangan ku dan mengajak ke dapur.
Akhirnya kau tak bisa menolak ajakan itu. Dengan senang hati aku pun makan disana, lega rasanya hilang ras lapar ku. Hari pun sudah sore. Aku pun pamitan dengan paman dan bibik ku.
Sesampainya di ruah aku sudah di hadang oleh ibuk tiriku, saya sudah tau ini pasti bertanda buruk, saya sudah tebak dari raut wajahnya sesambapinya di depan pinu
“dari mana kamu!” sambil membentak ku
“aku dari rumah paman bu’’
“Ngapain kamu kesana, pasti mengemis makanan ya?”
“tidak buk aku hanya main aja lama sudah tak kesana”
“main aja kerjaan mu, tugas-tugas di rumah tidak kamu kerjakan!”
Ibu tiri ku pun memukul tubuh ku, tapi apa daya aku tak bisa melawan. Hanya selebar kertas usang dari buku diary ku yang selalu menemaniku untuk berbagi cerita, sedih rasanya jika aku baca lembar demi lembar tgeorsan pena yang aku buat, di setiap akhir aku menulis selalu aku tulis nama ibu ku tersayang.  Ibu dimana kamu berada disini dian merindukan mu.. hari demi hari berlalu segala derita yang ku alami sudah ku tulis dalam diary ku, tak menyangka buku diary ku tinggal 2 lembar yang tersisa tank menyangka sudah bayak yang aku tulis dari tshun ke tahun. 
Pagi itu tak menyangka tak menduga saat aku lagi membersihkan kebun di depan halaman rumah, ada seorang ibu2 dan bertanya pada ku dari luar pagar.
“ dik2 apa benar ini rumahnya pak anton?” (pak anton nama ayah ku) 
“ia buk.. ini rumahnya bapak anton”
“Bapaknya ada?”
“oh tidak buk... bapak lagi kerja buk malam atao sore baru datang”.
“trus kalo istrinya ada?”
“mohon maaf sebelumnya buk, ibu siapa apa ada yang bisa saya bantu buk?”
“oh tidak dik, ibuk permisi dulu” tampa bilang apa2 ibu itu langsung pergi, aku peun terus melanjutkan pekerjaan ku. Pada siang harinya seperti biasa aku hanya diasi makan nasi putih, teme sebidang dan garam. Menu seperti biasa tapi hal yang tak biasa terjadi, pas saat makan tiba-tiba bapak ku pulang dari kantor, dia melihat aku lagi makan, sontak bapak ku kaget.
“dian kenapa makanan mu hanya nasi putih saja?’sambil terheran melihat ku, aku hanya bisa diam saja. Kemudian datanglah ibu tiriku sambil berkata
“duh dian kenapa lauk yang enak-enak yang ibu kasi malah kamu kasi ke jhoni(anjing).......” dngan perkataan seperti itu aku hana diam saja. Tak sangka dan tak ku duga ayahku malah memarahiku karena telah membuang lauk pauk untuk makanan ku, malah ayahku percaya sama kata ibu tiriku. Akupun sedih dan berlari ke kamar. Menangis sendiri dikamar tak sangka dan ku duga penderitaan ku masih berlangsung.. ingin ku tulis di buku harian ku tapi , buku ku masih sedikit sisa dua lembar. Ah rasanya bosan menulis meski menulis tidak akan merubah segalanya. Aku putuskan untuk membuang buku harian itu. Ke esokan harianya saat aku ingin membuangnya ke tong samapah di depan rumah, tiba-tiba ibuk-ibuk yang waktu itu bertanya pada ku menghampiri aku di dekan tong sampah itu.
“sore dik.. bapaknya ada?”
“oh masih di kantor buk.. malem jam 8an baru ada..”
“oh terus anaknya ada?”
“oh kalo anaknya lagi tidur siang buk didalam”
Ibu itu pun melihat buku yang aku mau buang, ibu itupu mertanya. “mau buang apa itu dik?’”
“ini buk saya mau buang buku harianya dian”
“oh mana jangan di buang saya pengumpul kertas, kasi aja ke ibu mungkin lebih bermanfat dari pada dibuang” tiba-tibaibu itu meminta buku harian itu ya, sempat berfikir untuk tidak mengasi tapi ya akhirnya aku kasi. Ibu itu lantas bilang makasi dan langsung pergi..
Malam itu sekitar jam 9 ada orang lagi mengedor-gedor pintu
“permisi-permisi”
Saat kumpul di ruang keluarga ibu tiriku menyuruh aku membuka pintu
“dian buka pintunya lihat siapa yang datang”
Ya bu.....
Aku pun berjalan ke dpan pintu dan membuka pintunya. Ternyata ibuk2 tadi yang aku temui itu datang ke rumah sambil memegang buku catatan ku... ibu itu langsung masuk dengan amarah aku pun bingung
“ada apa ni buk?” ibu itu tak juga menghiraukan ku. Lantas ibu itu teriak
“anton.... anton.... dimana anak ku!!!!”
Ayah ku pun datang..
“kenapa kamu kemari?’’ ujar ayahku
“aku mau mengambil anak ku, anak yang aku lahirkan!! Di sini anak ku tidah bahagia!”
“apa maksud mu”
“ini baca buku diary anak kita” sambil melempar buku diari q ke tubuh ayah ku.
Setelah mendengar percakapan itu aku sontak menangis. Ternyata itu ibuku..... sudah lama aku menantikan m ibu..... rasanya sangat bahagia sekali bisa bertemu ibu, tak ku sangka dia ibuku...
Akhirnya ayah ku memanggil ku
“dian....diaan...”
“ya pak.......”
Oh jadi dia dian anak ku” uajar ibu ku..
“apa benar ini kamu yang nulis” kata ayahku . belum sempat aku menjawab pertanyaan ku ibu ku langsung memeluk ku dan menangis
“nak.... kamu sudah besar... ibu kangen pada mu.....” sambil memeluk ku
“ia bu... dian juga kangen lama gak ketemu ibu...”
“ibu baca diary kamu.. ibu sedih... maka ibu putuskan mengajak kamu ke rumah ibu.. jangan seperti disini hidup hanya jadi pembantu saja...”
“ya tak apa2 buh dian anggap itu cobaan”
Sontak semua yang ada di rumah itu diam semua..
Akhirnya ibu ku mengajak ku ke rumahnya dan akhirnya aku hidup selayaknya ... jadi dua lebar kertas kosong di buku diary ku kutulis dengan akhir yang bahagia.

0 komentar:

Posting Komentar