Pages

Banner 468 x 60px

 

Senin, 21 Mei 2012

kerajinan tenun songket jinangdalem buleleng

0 komentar

Desa Jinang dalem bersal dari kata yang dikaji dalam bahasa bali maka kata “jineng berasal dari kata ‘’Nyeneng ‘’ yang berarti : Tempat atau Kediaman. Sedangkan kata ‘’Dalem berasal dari kata ‘’dalem’’yang artinya : Raja/ Orang  Dalam Kerajaan. Jadi arti Jinangdalem adalah tempat kediaman seorang Raja atau perna bertempat seorang Raja namun sampai sekarang Raja yang berdiam di Desa Jinangdalem tidak tahu siapa yang sebenarnya. Untuk dapat menambah suatu fakta dapat dibuktikan dengan adanya Pura Kawitan Jelantik yang letaknya di Pura Dalem yang awalnya adalah Pura Kawitan Jelantik saja dan Pura Dalem hanya ada di Kelurahan Penarukan, terkait dengan Arya Jelantik dengan Raja beliu merupakan Pepatih dari Raja Abdi Raja atau orang dalam Kerajaan, yang lain dapat dibuktikan dengan adanya : Pura Dalem Segening yang keberadaannya diperbatasan Desa yang berbatasan dengan Kelurahan Penarukan.
Kain songket yang diproduksi di Desa Jinang Dalem, Kecamatan Buleleng, tetap eksis dan mampu bersaing di pasaran. Meski persaingan makin ketat, kain songket yang diproduksi di daerah tersebut, tetap dicari konsumen. Kondisi ini tentu saja menyebabkan kualitas kain songket menjadi hal yang amat penting. Untuk itu, perajin songket di Desa Jinang Dalem tetap mengutamakan kualitas produk yang akan dijual.
Songket yang dikerjakan tangan-tangan terampil di desa setempat ada dua jenis, yakni songket dengan sebutan pinggiran. Artinya, kain jenis ini motif tenunannya tidak sepenuhnya pada selembar kain. Hanya sebagiannya saja ditenun dengan memakai benang sutra berwarna kuning keemasan. Sementara songket jenis lain, yakni pada selembar kain penuh ditenun. “Harganya berbeda, karena pemakaian bahan bakunya juga berbeda. Jika tenunannya penuh, harganya mahal. Namun, kalau sebagian saja, harganya lebih murah,” kata salah seorang perajin, baru-baru ini. Pemasaran kain songket dari Buleleng ini, selain menguasai pasar lokal, juga beberapa daerah di Bali.
Kain songket khas Desa Jinang Dalem, Kecamatan Buleleng akhir-akhir ini mulai diminati wisatawan asing. Kain yang banyak dipesan para wisatawan ini berukuran kecil seperti untuk taplak meja. Selain itu tamu asing juga menyukai kain ukuran selendang yang digunakan untuk membungkus produk furniture. Permintaan tenun songket dari tamu asing ini berawal ketika ada wisatawan yang berkunjung ke desanya. Saat itu tamu asing melalui guide yang mengantarkan menanyakan kain songket untuk taplak meja.
Kain tenun songket asli Jinang Dalem akhir-akhir ini banyak dilirik para perancang mode terkenal di tanah air seperti di Jakarta . Para perancang mode ini memilih kain songket untuk bahan busana. Kain yang banyak dipesan berukuran panjang 50 centi meter dan lebarnya 60 centi meter.
Usaha tenun tradisional di Desa Jinang Dalem, Kecamatan Buleleng kini dihadapkan dengan masalah pelik. Permasalahan itu yakni, lemahnya pemasaran terhadap produk tenun songket, sehingga penenunnya tidak mendapatkan hasil yang maksimal. Di samping itu, lemahnya akses permodalan juga ikut memperparah kelangsungan usaha tenun yang turun temurun ini. Banyak penenun di Jinang Dalem mengaku, kesulitan dalam memasarkan songket yang mereka buat. Biasanya produk tenun songket hanya mampu dipasarkan di Buleleng saja. Hanya sebagian kecil saja yang dipasarkan ke luar Buleleng. Pemasaran yang begitu lemah ini terjadi, lantaran kurangnya upaya promosi.

0 komentar:

Posting Komentar