Pages

Banner 468 x 60px

 

Sabtu, 10 Maret 2012

industri pedesaan

0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latarbelakang
Setiap desa pasti memiliki potensi yang berbeda,tergantung sumber daya alam dan manusia yang dimilikinya.  Industri pedesaan merupakan salah satu roda penggerak perekonomian pedesaan. Dengan berkembangnya industri pedesaan terutama industri pengolahan hasil pertanian diharapkan dapat menyerap hasil-hasil pertanian di pedesaan. Untuk mengembangkan industri pedesaan tidaklah mudah karena adanya berbagai kendala. Kendala utama yang sering dihadapi industri pedesaan selain permodalan dan pasar adalah teknologi. Teknologi merupakan aspek yang sangat penting dalam pengolahan hasil pertanian. Dengan teknologi, maka proses pengolahan hasil pertanian dapat dilakukan secara efisien. Selama ini telah tersedia berbagai teknologi pengolahan hasil pertanian, namun demikian penerapan teknologi pengolahan hasil pertanian tersebut masih kurang intensif terutama pada industri skala kecil/rumah tangga di pedesaan.
Pengolahan hasil pertanian pada industri skala kecil/rumah tangga mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, pengemasan sampai penyimpanan, umumnya masih dilakukan secara sederhana dengan menggunakan teknologi sederhana sehingga produk yang dihasilkan mutunya masih rendah dan kurang kompetitif. Oleh karena itu, untuk mewujudkan industri pedesaan yang mampu menghasilkan produk-produk olahan yang bermutu dan memiliki daya saing maka perlu dikembangkan cara-cara pengolahan hasil pertanian yang berorientasi Good Manufacturing Practices (GMP) .  industri pengolahan di pedesaan diharapkan dapat meningkatkan mutu dan nilai tambah secara optimal sehingga dapat memberikan konstribusi yang signifikan pada perekonomian pedesaan.
Masyarakat luas tidak asing lagi dengan tumbuhan bambu, tubuhan yang sering di jumpai di dataran tinggi, tumbuhan yang memiliki ruas-ruas,lubang di tengahya dan tinggi bisa mencapai 5-10 meter.  apalagi di bali bambu merupakan tumbuhan yang penting yang mempunyai nilai guna yang banyak, bambu dapat digunakan sebagai sarana upacara agama, bahan bangunan, alat rumah tangga , bahan kerajinan, dan alat musik. Bangli merpakan salah satu daerah penghasil bambu di bali, salah satu desa penghasil dan pengerajin bambu adalah desa kayubihi dimana di desa ini ada beberapa pengerajin yang menggunakan bambu sebagai bahan dasar membuat berbagai kerajinan.  


1.2  Rumusan masalah
a.       Mengapa pembuatan kerajinan dari bambu dikatakan sebagai  industri pedesaan?
b.      Bagaimaba karakteristik industri pengolahan bambu yang ada di bangli?
c.       Faktor-faktor apa saja yang mendukung industri tersebut?
1.3  Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah
a.       Untuk mengetahui Mengapa pembuatan kerajinan dari bambu dikatakan sebagai  industri pedesaan
b.      Untuk mengetahui Bagaimaba karakteristik industri pengolahan bambu yang ada di bangli
c.       Untuk mengetahui Faktor-faktor apa saja yang menghambat industri tersebut













BAB II
PEMBAHASAN
2.1  kerajinan bambu sebagai industri pedesaan
  Idustri pedesaan merupakan sebuah kegiatan produksi atau memperoduksi suatu barang dengan dengan jumlah yang kecil , tenaga yang sedikit bisa hanya menggunakan tenaga dari anggota keluarga dan menggunakan alat yang sederhana yang lokasinya ada di pedesaan. industri kecil adalah kegiatan produksiyang dilaksanakan secara sederhana oleh sekelompok orang yang biasanyadikerjakan disekitar rumah.Pada umumnya industri kecil didirikan tanpa ijin usaha dan tanpamelalui prosedur resmi sehingga perusahaan tersebut mempunyai ciri- ciri :
§  Sering menghadapi kesulitan modal karena bentuk usahanya yang informalsehingga sulit dipercaya lembaga perbankan untuk meminjam modal
§  Pertukaran keuangan pada umumnya lambat
§  Kegiatan pribadi pengusaha sangat besar
 Kerajinan bambu ini bertempat di daerah pedesaan di kabupaten bangli yang tepatnya berada  di desa kayubihi.  Dengan memanfaatkan teknologi yang sederhana , maka proses pengolahan dari hasil huatan bambu dapat dilakukan secara efisien. Selama ini telah tersedia berbagai teknologi pengolahan hasil pertanian, namun demikian penerapan teknologi pengolahan bambu tersebut masih kurang intensif terutama pada industri skala kecil/rumah tangga di pedesaan Didalam memproduksi suatu kerajinan  Pengembangan agroindustri disepakati sebagai kelanjutan dari pengembangan tanaman bambu berdasarkan peran agroindustri dalam perekonomian, seperti :
- mampu meningkatkan pendapatan pelaku pengerajin bambu khususnya dan pendapatan masyarakat pada umumnya
- mampu menyerap bahan baku dan tenaga kerja
- mampu menumbuhkan industri pedesaan.


2.2 Karakteristik Industri Pengolahan Bambu sebagai  kerajinan
Jenis-jenis produk hasil kerajian bambu yang dibuat ini dapat dikelompokkan berdasaran teknik pembuatannya, berdasarkan fungsinya, dan berdasarkan sasran pasarnya. Teknik pengawet benda yang sudah jadi lebih banyak dilakukan dengan cara finishing, artinya finishing (penyelesaian akhir merupakan bagian dari pengawetan). Proses ini dilakukan dengan cara melapisi benda kerajinan bambu dengan bahan pernis diornamen dengan cat minyak atau bahan lainnya yang sejenis. Dengan kondisi pasar yang kurang baik, bahan bambu masih bisa dipenuhi dari bambu-bambu lokal, berbeda dengan keadaan beberapa tahun sebelumnya jika pesanan banyak bambu didatangkan dari luar Bangli.  Jika dilihat karakteristik industri ini dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu :
2.2.1 Tehnik Pengolahan tanaman Bambu
            Pengolahan bambu untuk kerajinan adalah denga menebag pohon bambu, kemudian diraut dan dihaluskan baik kulit maupun isi, lalu dikerigkan dan kemudian di olah sedemikian rupa. Bambu yang sudah diolah dapat dipergunakan untuk membuat apa yang diinginkan perajin,seperti membuat alat upacara, alat musik, atat rumah tangga dan lain-lain..Disamping itu, cara pembuatan anyama bambu yang lain, yang merupakan inovasi produksi perajin adalah :
·         Bambu yang dipergunakan adalah bambu dewasa berukuran besar dan sama panjang ruasnya, dan bambu yang muda untuk bahan anyaman.
·         Dilakukan pemotongan dan pengolahan sesuai produk yang diinginkan dan dilakukan pembekahan atau dibelah dan diserut hingga tipis lalu dijemur hingga kering untuk anyaman
·         Bambu di bentuk sedemikian rupa dan bambu yag tipis dibetuk dengan meganyam dan diikat dengan rotan yang sudah diraut halus
·         Pekerjaan akhir adalah memberi zat pengkilat dengan meggunakan vernis atau pelitur
Di Kabupaten Bangli kerajinan   bambu ini sudah dikembagkan sebagai suatu usaha kerajinan membuat barang-barang yang bersifat aksesoris yang dekoratif. Produknya antara lain tempat buah, gelang , kap lampu, dan sebgainya. Teknik pengolahan bambu sebelum digunakan sebagai benda kerajinan hampir sama  sebelumnya misalnya dikeringkan, direndam dan disemprot dengan cairan pestisida. Proses ini termasuk pengolahan awal untuk menghindari bambu dari serangan sehingga produk yang dihasilkan lebih awet. Konsumen umumnya meminta penggunaan bahan pengawet ini adalah bahan yang ramah lingkungan. Teknik pembuatan kerajinan bambu ini dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu dianyam, non anyaman (dipotong, dibelah, dan dilobangi dsb), dan gabungan dianyam dan non anyaman.
 Jenis-jenis produk bambu yang dibuat oleh perajin di Bali adalah benda-benda yang berfungsi pakai artinyabenda tersebut memiliki fungsi praktis, dengan sentuhan seni baik dengan motif anyaman, jenis dekorasi, pengolahan bentuk dan finishing sesuai dengan bentuk dan fungsi benda tersebut. Dalam penelitianini tidak ditentukan benda kerajinan bambu yang khusus berfungsi hias, maksudnya adalah benda tersebut khusus diciptakan berfungsi menghias seperti menghias ruangan,  menghias dinding dan sebagainya.
2.2.2  Produksi kerajinan bambu
Bambu sebenarnya tanaman yang potensial sekali untuk menggantikan peran kayu dalam bangunan. Keunggulan utamanya adalah bisa dibudidayakan serta mempunyai kemampuan untuk tumbuh dengan sangat cepat. Ini berbeda dengan kayu yang memiliki waktu lama untuk tumbuh besar. Sektor kerajinan merupakan salah satu sektor usaha yang bagi masyarakat yang tinggal di dekat hutan, terutaman hutan bambu. beberapa produk kerajinan yang berbahan dasar bambu dihasilkan dengan beberapa jenis barang yang bermanfaat seperti bilik, wide, perabotan rumah tangga  yang memiliki nilai jual yang tinggi dan akrab dengan kehidupan manusia. Produksi kerajinan ini dapat beroreintasi ganda yang merupakan produksi subsisten dan peroduksi untuk di komersialakan :
a.       Produksi subsisten
Dimana para pengerajin menggunakan kerajinan bambu ini untuk dipergunakan untuk kepentingan rumah tangganya, misalnya saja pengerajin ini membuat sok asi ( tempat sejasi) jadi dengan membuatnya sendiri jadi masyarakat ini tidak perlu membeli. Apalagi pembuat bambu ini adalah orang bali yang mayoritas beragama hindu tentunya banyak hasil-hasil kerajinan deri bambu yang digunakan sebagai sarana upacara agama.
b.      Produksi komersil
Jika kebutuhan sendiri sudah terpenuhi, para pengerajin memang sengaja membuat dengan julah yang sangat besar untuk dipasarkan melihat membanh banyak  memerlukan beberapa hasil kerajinan yang terbuat dari bambu ini. Hasil produksi ini mambu sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
2.2.3  Tenaga Kerja
Jika diklasifikasikan berdasarkan tenaga kerjanya industri kerajinan bambu ini merupakan jenis industri rumah tanga atau industeri kecil yaitu  industri yang menggunakan tenaga kerja sedikit. Ciri industri ini memiliki modal yang sangat terbatas, tenaga kerja berasal dari anggota keluarga, dan pemilik atau pengelola industri biasanya kepala rumah tangga itu sendiri atau anggota keluarganya, modal relatif kecil, teknologi sederhana, pekerjanya kurang dari 10 orang biasanya dari kalangan keluarga, produknya masih sederhana, dan lokasi pemasarannya masih terbatas (berskala lokal). ).Berdasarkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh industri kecil dan rumah tangga diatas,  industri tersebut mempunyai prospek yang baik untuk pengembangannya. Industri kecil dan kerajinan rumah tangga jaga memilikikelemahan-kelemahan antara lain dalam hal keorganisasian, keuangan, pengelolaadministrasi, dan pembukuan. Peralatan relatif sederhana dan mudah yang memberikan kemungkinan skalaproduksi lebih rendah dan lebih tepat untuk pasaran yang bersifat terbatas.dengan adanya industri pengerajin bambu ini , maka secara otomatis akan memberi kesempatan penduduk sekitar untuk bekerja berarti semakin besar kemungkinan untuk meningkatkan stabilitas  wilayah sekitar karena banyak tenaga kererja yang bisa di peroleh. Disamping sebagai tenaga kerja di industri pengerajin bambu juga akan memberikan peluang kerja pada penduduk sekitar pada sektor lain yang berhubungan dengan industri kerajinan bambu tersebut, misalnya distributor kerajinan , penjualalat- alat ( perkakas), penjual produk pemgawet .    
2.2.4. Peralatan produksi yang digunakan
Didalam mengoah bambu sebagai kerajinan yang bernilai guna tinggi masyarakat tidak menggunakan  peralatan yang canggih atau moderen tapi hanya menggunakan peralatan yang sederhana seperti kapak digunakan untuk menebang pohon bambu, golok digunakan untuk memotong bambu , geregaji fungsinya untuk memotong, pisau dan beberapa alat untuk menghaluskan bambu itu. Dalam produksi ini hanya menggunakan cat dan pernis untuk menjaga keawetan dari anyaman bambu ini. Dengan demikian biaya untuk memperoduksi kerajinan dari bambu ini tidak memerlukan biaya yang banyak.

2.3 Hambatan –hambatan pengolahan bambu tersebut
Setiap kegiatan usah pastinya ada kendala dan kemudahan  didalam menjalankanya tetapi hambatan-hambatan dan kendala ada harus bida diminimalkan atau harus ada solosinya agar kegiatan produksi ini bisa dijalankan sedemiian rupa. Ada pun hambatan dalam pengembangan bambu di Kabupaten Bangli diantaranya :
a. Bambu belum menjadi prioritas pembangunan
Pihak pemerintah, baik pusat maupun daerah belum begitu tajam menuangkan pengembangan bambu sebagai salah satu program andalan, sedang dari pihak swasta maupun Lembaga Swadaya Masyarakat sangat terbatas peminatnya dalam upaya melakukan pengembangan bambu, sementara itu kebutuhan bahan baku bambu di Provinsi Bali terus meningkat. Para petani pun kurang didalam membudidayakan tanaman ini, para petani lebih memilih mengembangkan tanaman yang lemih memiliki  harga yang lebih tinggi. Jika lahan mereka di tanami bambu maka tanaman lain seperti tanaman hortikurtura akan sulit hidup, makanya lahan yang diguankaan sebagai hutan bambu makin berkurang, hanya lahan yang kurang produktiflah sebagai tempat pengembangan atau pembudidayaan tanaman ini, misalnya di releng-releng yang terjal dan tukad.
b. Terbatasnya rakitan teknologi perbambuan
Terbatanya teknologi didalam pembuatan barang kerajinan dari mambu merupakan salah satu kendala didalam perkembangan industri ini, dengan hanya menggunakan alat yang sederhana dan tradisional maka barang hasil produksi yang di hasilkan akan terbatas dan memerlukan waktu yang cukup lama.  Penelitian mendasar tentang bambu yang menyangkut budidaya, ekologi, teknologi, ekonomi pemanfaatan belum berkembang, hal ini menjadi penyebab terbatasnya rakitan teknologi bambu, meski kita ketahui bahwa bali mempunyai keanekaragaman hayati jenis bambu.
c.    Terbatasnya informasi mengenai perbambuan
Informasi mengenai jenis bambu, manfaat bambu dan teknologi pengolahannya jarang diketahui masyarakat, sehingga masyarakat luas belum memahami prospek ekonomi yang baik untuk usaha perbambuan.

d.      Kurangnya akses modal yang dimiliki masyarakat
Modal merupakan sebuah poin penting didalam menjalankan suatu usaha, dengan adanya modal maka dapat memanfaatkan fasilitas yang ada untuk kepentingan produksi yang besar, jika dilihat industri pengolahan bambu yang tergolong dalam industri pedesaan yang kecil tentunya modal menjadi suatu kendala. Dengan keterbatasannya dana maka intustri tersebut akan sulit berkembang.
e.       Masih kurangya informasi pasar
Pasar sebagai tempat terjadinnya teransaksi jual beli atau tempat pemasaran barang produksi,. Jika para pengerajin kurang mendapat informasi mengenai tempat mana yang membutuhkan barang produksinya maka barang yang mereka buat akan tertahan dan titak tau akan menjual barang produksinya itu kemana.




















BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Industri pedesaan merupakan salah satu roda penggerak perekonomian pedesaan. Dengan berkembangnya industri pedesaan terutama industri pengolahan hasil pertanian diharapkan dapat menyerap hasil-hasil pertanian di pedesaan. Kerajinan bambu merupakan salah satu dari industri pedesaan yang ada di bali. Para pengerajin ini sudah banyak menghasilkan karya-karyanya untuk kepentingan masyarakat. Bayak barang yang dapat dihasilkan dari bambu ini misalnya saja alat rumah tangga, bahan bangunan, alat musik dan lain-lain. Didalam memproduksi suatu kerajinan  Pengembangan agroindustri disepakati sebagai kelanjutan dari pengembangan tanaman bambu berdasarkan peran agroindustri dalam perekonomian, seperti : mampu meningkatkan pendapatan pelaku pengerajin bambu khususnya dan pendapatan masyarakat pada umumnya, mampu menyerap bahan baku dan tenaga kerja dan mampu menumbuhkan industri pedesaan.
            Bambu sebenarnya tanaman yang potensial sekali untuk menggantikan peran kayu dalam bangunan. Keunggulan utamanya adalah bisa dibudidayakan serta mempunyai kemampuan untuk tumbuh dengan sangat cepat. Ini berbeda dengan kayu yang memiliki waktu lama untuk tumbuh besar. Sektor kerajinan merupakan salah satu sektor usaha yang bagi masyarakat yang tinggal di dekat hutan, terutaman hutan bambu Karakteristik dari pengerajin bambu ini antara laian tenaga kerjanya 4- 10 orang yang biasanya hanya terdiri dari keluarganya saja, dalam pembuatanya masuh menggunakan alat yang masih sederhana, barang hasil produksinya untuk keperluan sendiri (keluarga) dan untuk di komersilkan.
       Kendala-kendala yang dihadapi oleg para petani antara lain : Bambu belum menjadi prioritas pembangunan,  Terbatasnya rakitan teknologi perbambuan, Terbatasnya informasi mengenai perbambuan, Kurangnya akses modal yang dimiliki masyarakatdan Masih kurangya informasi pasar
3.2.Saran
Saran yang bisa kami beriakan yaitu seharusa para pengerajin lebih berani mengembangkan industrinya dengan lemih meningkatatkan produksinya dengan menyerap tenaga kerja yang lebih. Selain itu petani harus membudidayakan tanaman bambu agar nantinya kerajinan bambu ini tidak tergerus oleh kemajuan jaman.




















DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, bambang.2001. budidaya tanaman bambu. Kasinius . yogyakarta
Yoeti, Oka A, Drs. BA. 1996. Perencanaan dan Pengembangan industri kecil. Pradya Paramita. Jakarta.


0 komentar:

Poskan Komentar