Pages

Banner 468 x 60px

 

Sabtu, 10 Maret 2012

geografi abad 19

0 komentar
Pada abad ke-19, sekolah merupakan suatu lembaga formal yang diperuntukkan bagi anak-anak, yang harus taat pada disiplin dan ketentuan-ketentuan yang sangat ketat dan kaku. Sekolah merupakan suatu keharusan dan dianggap sebagai penyebab utama kemajuan masyarakat dan industry yang sangat cepat. Sekolah merupakan tempat untuk menempa anak-anak yang dipersiapkan untuk hidup. Menurut Hummel pada waktu itu kehidupan seseorang dibagi menjadi tiga periode yang terpisah satu sama lain, yaitu : (1) sekolah dan belajar, (2) kehidupan yang aktif, dan (3) usia lanjut. Di sekolah nasib seseorang ditentukan ,dan yang dituangkan dalam
angka-angka yang ditulis pada secarik kertas. Keadaan inilah di beberapa Negara di dunia ini, yang merupakan dorongan besar dalam menuju pembaruan suatu sistem pendidikan. Dan muncullah suatu konsep pendidikan sepanjang hayat (life long education).
a.       Latar Belakang Historis
Pertumbuhan masyarakat industry di Eropa, khususnya di Inggris telah menciptakan kebutuhan pendidikan yang baru, terutama di kalangan orang dewasa. Pada tahun 1919, komite pendidikan orang dewasa, Kementerian pendidikan kerajaan inggris, dalam suatu laporannya menggambarkan pendidikan orang dewasa merupakan sebagai suatu kebutuhan nasional yang tetap, dan merupakan suatu aspek yang tak dapat dipisahkan dengan peradaban manusia. Laporan tersebut menyimpulkan, bahwa kesempatan untuk pendidikan orang dewasa (adult education) harus bersifat universal dan sepanjang hayat. Laporan inilah yang merupakan pertanda lahirnya istilah pendidikan sepanjang hayat ( life long education.
Dewasa ini konsep pendidikan sepanjang hayat diterima di mana-mana. Merupakan suatu prinsip dasar yang dijadikan titik tolak dalam pemikiran tentang pendidikan, dan selalu berdiri di belakang setiap usaha reformasi (pembaruan) pendidikan.
Konsep pendidikan sepanjang hayat, merupakan hasil kerjasama internasional. Konsep tersebut merupakan hasil pemilihanbersama, dan tukar pendapat serta pengalaman-pengalaman, antara pengajar, peneliti, dan administrator dan berbagai Negara, yang disponsori oleh UNESCO dan CCC ( Council for Cultural Cooperation) yang didirikan oleh Dewan Eropa.
Dalam bulan Desember 1965, Komite Internasional UNESCO mempertimbangkan sebuah laporan yang dikemukakan oleh Paul Lengrand mengenai konsep berkelanjutan dalam pendidikan, dan menganjurkan agar UNESCO membenarkanasas-asas ‘’pendidikan sepanjang hayat’’. Yaitu suatu prinsip di mana seluruh proses pendidikan dianggap sebagai suatu yang secara terus menerus di dalam seluruh kehidupan seseorang dari semenjak masa kanak-kanak sampai kepada akhir hayatnya, oleh karena itu diperlukan suatu pengelolaan secara terpadu.
Dalam tahun 1968 suatu konferensi yang diselenggarakan UNESCO membatasi 12 tujuan yang menjadi sasaran pendidikan secara internasional (laporannya diterbitkan tahun 1970, sebagai persembahan kepada tahun pendidikan internasional), diantaranya ialah: ‘’pendidikan sepanjang hayat’’
b.      Makna dari konsep
Pendidikan sepanjang hayat melihat jauh ke depan, berusaha untuk mencetak manusia baru,
Membawa sistem nilai, merupakan suatu proyek masyarakat yang sangat besar. Pendidikan sepanjang hayat merupakan suatu sistem pendidikan yang cocok bagi orang-orang yang hidup dalam dunia transformasi, dan di dalam masyarakat yang saling mempengaruhi, yaitu masyarakat modern. Manusia tersebut harus mampu menyesuaikan dirinya secara terus menerus dengan situasi-situasi baru.
            Pendidikan sepanjang hayat merupakan jawaban terhadap kritik-kritik yang dilontarkan terhadap sekolah. Sistem sekolah tradisional mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang sangat cepat dalam abad terakhir ini, dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau tuntutan-tuntutan manusia yang makin meningkat. Kebutuhan manusia yang makin meningkat, aneka ragam pekerjaan serta turun naiknya kesempatan kerja yang sangat cepat, memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap masalaah-masalah pendidikan.
            Pendidikan di sekolah yang hanya terbatas kepada tingkat pendidikan dari kanak-kanak sampai dewasa tidak akan memenuhi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan dunia yang berkembang. Dunia yang selalu berubah ini membutuhkan suatu sistem pendidikan yang fleksibel. Pendidikan mesti tetap bergerak dan mengenal inovasi secara terus menerus.
            Menurut konsep ‘’pendidikan sepanjang hayat’’, kegiatan-kegiatan pendidikan dianggap sebagai suatu keseluruhan, seluruh sector pendidikan merupakan suatu system yang terpadu. Konsep ini mesti disesuaikan dengan kenyataan serta kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Maka dalam hal ini suatu bangsa yang telah maju (industri) akan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan masyarakat di Negara berkembang. Apabila sebagian besar masyarakat suatu bangsa masih banyak buta huruf, maka pemberantasan buta huruf di kalangan orang dewasa memegang peranan penting dalam sitem pendidikan sepanjang hayat. Namun di Negara industri yang telah maju pesat, masalah bagaimana cara mengisi waktu senggang akan memegang peranan penting dalam system ini.
4. Konsekuensi Pendidikan
a. Cara Belajar
            Didalam situasi dunia di mana transformasi berjalan dengan cepatnya, begitu pula perkembangan ilmu dan teknologi, maka pendidikan tidak lagi terbatas hanya semata-mata kepada transformasi pengetahuan saja.
            Dalam belajar membutuhkan suatu standar pendidikan yang lebih fleksibel, lebih dinamis, dan lebih terbuka terhadap dunia dan lingkungan sekitarnya. Harus lebih menekankan pembentukan individu dari pada hanya belajar semata-mata. Guru harus mampu membangkitkan motivasi, kemauan yang kuat serta keingintahuan dalam diri siswa. Para siswa mesti belajar kerja, belajarr menemukan dan mencipta, mengenal teori-teori serta fakta-fakta. Murid tidak pasif, melainkan harus berpartisipasi dalam proses belajar. Para siswa mesti dipersiapkan untuk belajar sendiri, dan berlatih sendiri.   
            Dalam sistem seperti disebutkan di atas, guru bukan hanya pengajar, melainkan harus menjadi pendorong. Kelas-kelas yang tradisional yang hanya mengandalkan ‘’ceramah’’ harus mulai ditinggalkan. Kelas harus diganti dengan kelompok-kelompok belajar, dimana para siswa dapat bekerja bersama-sama dan bekerja bersama guru. Siswa tidak lagi dibebani tugas menghafal, melainkan ia harus mampu menggunakan seluruh media informasi, dari mulai     

0 komentar:

Poskan Komentar