Pages

Banner 468 x 60px

 

Sabtu, 10 Maret 2012

filsafat geografi "hakikat manusia dan pengembanganya"

0 komentar
HAKIAT MANUSIA DAN PENGEMBANGANYA a. Cakupan Kajian Ilmu Tentang Bumi Geografi yang secara historis telah mulai dikembangkan oleh para tokoh peletak dasar ilmu sejak masa Yunani dan Romawi Kuno (mulai sekitar abad ke-3 dan ke-2 SM) hanya merupakan sebagian saja dari sekian ilmu yang sama-sama mempelajari bumi. Sebutan geografi pertama kali di kemukakan oleh Eratosthenes (276-196 SM) sebagai ahli geografi dengan hasil karya utamanya yang berjudul Geographika. Tetapi meskipun hanya merupakan sebagian saja dari ilmu-ilmu yang mempelajari bumi, cakupan kajian geografi demikian luas hingga tidaklah mudah merumuskan batas-batas bidang kajiannya. Pada hakikatnya, Geografi sebagai bidang ilmu pengetahuan, selalu melihat keseluruhan gejala dalam ruang dengan memperhatikan secara mendalam tiap aspek yang menjadi komponen tiap aspek tadi. Geografi sebagai satu kesatuan studi (unified geography), melihat satu kesatuan komponen alamiah dengan komponen insaniah pada ruang tertentu di permukaan bumi, dengan mengkaji faktor alam dan faktor manusia yang membentuk integrasi keruangan di wilayah yang bersangkutan. Gejala—interaksi—integrasi keruangan, menjadi hakekat kerangka kerja utama pada Geografi dan Studi Geografi (Sumaatmadja). Para ahli geografidapat melakukan inkuiri (pengkajian) dalam bentuk pembuatanpeta ataumembandingkan persamaan dan perbedaan antara daerah-daerah di dunia. Geografi pun dapat mengkaji gambaran fisik dari daerah, faktor-faktor cuaca, kepadatan penduduk, sumber-sumber alam, penggunaan tanah dan lain-lain. Geografi sebagai ilmu pengetahuan yang pernah disebut sebagai induk ilmu pengetahuan (mother of sciences) mengalami pasang-surut peranannya untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan. Apabila geografi tetap ingin berperan dalam memberikan sumbangan pemikiran dalam kebijakan pembangunan, geografi harus mempunyai konsep inti, metodologi dan aplikasi yang mantap. Makalah ini bertujuan untuk menelusuri konsep inti geografi yang sesuai untuk dikembangkan di Indonesia untuk mendasari kompentensinya, khususnya dalam bidang geografi fisik. Pemisahan geografi fisik dan geografi manusia yang tinggi kurang mencirikan jati diri geografi, dan jika kecenderungan pemisahan tersebut semakin berlanjut jati diri geografi akan pudar dan akan larut dalam disiplin ilmu lainnya, dan bahkan kita akan kehilangan sebagian dari kompetensi keilmuan geografi. Geografi terpadu atau geografi yang satu (unifying geography) menjadi satu pilihan sebagai dasar pembelajaran geografi yang sesuai untuk Indonesia, yang diikuti dengan pendalaman keilmuan pada masing-masing obyek material kajian geografi tanpa melupakan obyek formalnya. Komponen inti dari geografi terpadu adalah ruang, tempat/lokasi, lingkungan dan peta, yang berdimensi waktu, proses, keterbukaan dan skala. Komponen inti geografi terpadu tersebut dijadikan dasar untuk menentukan kompetensi geografi. Kompetensi geografi fisik, yang obyek materialnya fenomena lingkungan fisik (abiotik) pada lapisan hidup manusia, sangat luas antara lain: penataan ruang, pengeolaan sumberdaya alam, konservasi sumberdaya alam, penilaian degradasi lingkungan, pengelolaan daaerah aliran sungai, penilaian tingkat bahaya dan bencana, penilaian risiko bencana. Kompetensi geografi fisik tersebut selalu dikaitkan dengan kepentingan umat manusia, dengan konsep bahwa lingkungan fisikal sebagai lingkungan hidup manusia. B. Konsep geografi Berikut ini disampaikan beberapa konsep geografi yang dapat dijadikan pegangan untuk menentukan kompetensi geograf. 1. Geografi menduduki tempat yang jelas dalam dunia pendidikan, geografi menawarkan kajian terpadu dari hubungan timbal balik antara masyarakat manusia dengan komponen fisikal dari bumi. 2. Disiplin geografi dicirikan oleh subyek material yang luas, yang secara tradisional terdiri dari dari geografi manusia dan geografi fisik. 3. Komponen pengetahuan alam dan sosial dalam geografi tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, dan tidak ada disiplin ilmu lain yang memadukannya seperti yang dilakukan oleh geograf. 4. Geografi mempelajari interelasi dan interdependensi dari dunia nyata dari fenomena dan proses yang memberikan ciri khas pada suatu wilayah. 5. Obyek kajian geografi adalah geosfer yang terdiri dari atmosfer, litosfer, pedosfer, hidrosfer, biosfer dan antroposfer; masing-masing sfera tersebut saling terkait membentuk sistem alami. 6. Obyek kajian geografi tersebut juga menjadi kajian bidang ilmu lainnya, yang menjadi pembeda adalah pendekatan yang digunakan; pendekatan yang dimaksud adlah pendekatan spasial (keruangan), ekologikal dan kompleks wilayah. 7. Geografi mempelajari wilayah secara utuh menyeluruh tentang sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, sehingga mempunyai peran penting dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan dalam rangka otonomi daerah. 8. Geografi mempelajari proses perubahan lingkungan alam maupun lingkungan sosial ekonomi, sehingga pelajaran geografi memberi bekal untuk tanggap terhadap isu-isu dan perubahan lokal, regional dan global. 9. Peta merupakan salah alat utama dalam kajian geografi dan juga merupakan salah satu hasil utama dalam kajian geografi. 10. Perkembangan pesat dari ilmu dan teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis sangat membantu dalam proses-belajar geografi dan penelitianpenelitian geografis. 2. pengertian ilmu dan kriterianya Pengetahuan tentang bumi telah dikembangkan orang sejak masa yunani dan romawi kuno sejak sekita tiga atau empat abad sebelum masehi. Dari bukti-bukti peninggalan kuno yang ada tidaklah mustahil kalau pengetahuan tentang bumi bahkan telah dikembangkan dan dipakai orang pada zaman peradaban Nubia kuno di tepi sungai nil sekitar 4000 tahun yang lampau. Dugaan teakhir ini berpangkal dari kenyataan adanya peninggalan kebudayaan kuno itu yang mengisyaratkan telah adanya perkembangan pengetahuan yang demikian berguna bagi kehidupan;sepeti dasar-dasar pengetahuan geometi,ilmu gaya dan pengetahuan tentang iklim serta astronomi yang erat kaitannya dengan keberhasilan pembangunan piramida raksasa serta upacara-upacara keagamaan yang diadakan pada saat matahari tepat menyinari bagian dalam piramida yang menjadi tempat upacara. 3. konsep dasar dan konsep esensial geografi Konsep dasar merupakan konsep-konsep paling penting yang menggambarkan sosok atau struktur ilmu. Dalam dunia pengajaran konsep esensial merupakan konsep-konsep penting yang perlu diketahui atau dikuasai para siswa sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuannya (tidak sama untuk tingkat SD,SLTP,dan tingkat STLA). Jerome S.Bruner adalah ahli pendidikan (ahli psikologi kognitif) yang pertama menyarankan agar jika suatu ilmu hendak diajarkan pada murid pada di sekolah ,maka perlu dirumuskan konsep-konsep dasarnya yang paling mudah difahami anak yang menggambarkan struktur ilmu-ilmu yang bersangkutan. Karena itu filsafat geografi sangat penting artinya agar apa yang dipelajari benar-benar menghaslkan kajian geografi,yang berbeda dari kajian ilmu lain. Kajian geografi memusatkan perhatian pada fenomena geosfer dalam kaitan hubungan ,persebaran ,interaksi keruangan atau kewilayahannya. Fakta geografis adalah fakta yang merujuk pada karakter tempat,kuantitas atau kualtas fenomen atau gejala di suatu tempat pada waktu tertentu. Maka daa tiga hal yang mensyaratkan karakteristik pengertian fakta geografis,yaitu: (1). Keadaan, sifat,atau peristiwa itu benar-benar berlangsung. (2). Kita ketahui lokasinya atau spesiikasi tempatnya (tempat berlangsung), (3). Kita ketahui waktu atau saat hal tersebut diamati. (1). Konsep lokasi Secara pokok dapat dibedakan antara pengertian lokasi absolute dan lokasi relative.Letak absolut bersifat tetap,tidak berubah-ubah ,meskipun kondisi tempat yang bersangkutan terhadap sekitarnya mungkin berubah. Lokasi relative lebih penting artinya dan lebih banyak dikaji dalam geografi serta lazim juga disebut sebagai letak geogrfis. (2). Konsep jarak Jarak sebagai konsep geografi mempunyai arti penting bagi ke hidupan sosial,ekonomi maupun juga untuk kepentingan pertahanan. (3). Konsep keterjangkauan Keterjangkauan yang dalam bahasa inggrisnya disebut accessability tidak selalu berkait dengan jarak ,tetapi lebih berkaitan dengan kondisi medan atau ada tidaknya sarana angkutan atau komunikasi yang dipakai. (4). Konsep pola Geografi mempelajari pola-pola bentuk dan persebaran fenomena,memahami makna atau artinya,serta berupaya untuk memanfaatkannya dan di mana mungkin juga mengintervensi atau memodifikasi pola-pola guna mendapatkan manfaat yang lebih besar. (5). Konsep morfologi Morfologi menggambarkan perwujudan daratan muka bumi sebagai hasil pengangkataan atau penurunan wilayah yang lazimnya disertai erosi dan sedimentasi hingga ada yang berbentuk pulau-pulau,daratan luas yang berpengunungan dengan lereng-lereng tererosi,lembah-lembah dan daratan aluvialya. Morfologi juga menyangkut bentuk lahan yang terkait dengan erosi dan pengendapan,penggunaan lahan,tebal tanah,ketersediaan air serta jenis vegetasi yang dominan. (6). Konsep aglomerasi Aglomerasi merupakan kecenderungan persebaran yang bersifat mengelompok pada suatu wilayah yang relatif sempit yang paling menguntungkan baik mengingat kesejenisan gejala maupun adanya faktor-faktor umum yang menguntungkan. (7). Konsep nilai kegunaan Nilai kegunaan fenomena atau sumber-sumber di muka bumi bersifat relatif,tidak sama bagi semua orang atau golongan penduduk tertentu. (8).konsep interaksi/interdependensi Interaksi merupakan peristiwa saling mempengaruhi daya-daya,objek atau tempat satu dengan yang lain . interaksi keruangan bahkan juga terjadi antara unsur atau fenomena setempat,baik antara fenomena alam ataupun kehidupan . (9). Konsep diferensiasi areal Setiap tempat atau wilayah terwujud sebagai hasil intergrasi berbagai unsur atau fenomena lingkungan baik yang bersifat alam atau kehidupan. Integrasi fenomena menjadikan suatu tempat atau wilayah mempunyai corak individualitas tersendiri sebagai suatu region yang berbeda dari tempat atau wilayah yang lain. (10). Konsep keterkaitan keruangan Keterkaitan keruangan atau asosiasi keruangan menunjukkan derajat keterkaitan persebaran suatu fenomena dengan fenomena yang lain di satu tempat atau ruang ,baik yang menyangkut fenomena alam,tumbuhan atau kehidupan sosial. Sebagai contoh keterkaitan keruangan misalnya kemiringan lereng dengan tebal tanah,makin terjal lerengnya tentunya akan disertai dengan fenomena makin tipisnya tanah ,karena di lereng yang terjal erosi terjadi lebih intensif.

0 komentar:

Poskan Komentar